Barabai (KATAKUNCI) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) mendorong mahasiswa KKN Tematik Tahap II UIN Antasari Banjarmasin mengambil peran aktif dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah.
Upaya tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, serta Peningkatan Kapasitas (PSLB3PK) DLH HST di Aula DLH HST, Kamis (15/10/2026). Pertemuan ini bertujuan menyelaraskan program kerja mahasiswa dengan kebutuhan edukasi lingkungan di tingkat desa.
Pengelolaan sampah menjadi salah satu persoalan yang memerlukan keterlibatan masyarakat sejak dari sumbernya. Tanpa kebiasaan mengurangi dan memilah sampah, upaya penanganan di tahap akhir akan semakin sulit dilakukan secara efektif.
Kepala Bidang PSLB3PK DLH HST, Muhammad Fadillah, menilai mahasiswa KKN memiliki potensi besar untuk membantu memperluas pemahaman warga mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Kehadiran mereka di desa dapat dimanfaatkan untuk mendorong perubahan perilaku melalui pendekatan edukatif dan partisipatif.
“Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan petugas kebersihan. Perlu kesadaran masyarakat untuk mengurangi dan memilah sampah sejak dari rumah,” ujar Fadillah.
Menurutnya, pengelolaan sampah yang baik harus dimulai melalui langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat perlu membedakan sampah organik dan anorganik, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, serta menggunakan kembali barang yang masih layak.
Sampah organik, seperti sisa makanan dan dedaunan, berpotensi diolah menjadi kompos apabila dikelola dengan tepat. Sementara itu, sampah anorganik yang masih memiliki nilai guna dapat dimanfaatkan kembali atau disalurkan ke fasilitas pengelolaan yang tersedia.
Melalui program KKN, mahasiswa diharapkan mampu menerjemahkan edukasi tersebut menjadi kegiatan nyata yang sesuai dengan kondisi desa. Sosialisasi, pendampingan pemilahan sampah, dan kampanye kebersihan dapat menjadi pilihan kegiatan berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat.
Pendekatan langsung kepada warga juga penting untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam pengelolaan sampah. Keterbatasan fasilitas, kebiasaan membuang sampah sembarangan, dan rendahnya pemahaman mengenai pemilahan perlu ditangani melalui edukasi yang berkelanjutan serta dukungan sarana yang memadai.
Fadillah berharap kerja sama dengan mahasiswa dapat memperkuat upaya pemerintah daerah dalam menumbuhkan kepedulian lingkungan di tengah masyarakat. “Kami berharap mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga mampu mengajak warga membangun kebiasaan mengelola sampah secara bertanggung jawab dan berkelanjutan,” katanya.
Rapat koordinasi tersebut sekaligus menjadi ruang pertukaran informasi antara DLH HST dan mahasiswa mengenai tantangan pengelolaan sampah di lapangan. Pemahaman terhadap kondisi setempat diperlukan agar program yang dirancang tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi memberikan manfaat bagi masyarakat.
Keterlibatan perguruan tinggi melalui kegiatan KKN dapat menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan kebutuhan masyarakat. Dengan pendampingan yang tepat, mahasiswa berpeluang membantu memperkenalkan praktik pengelolaan sampah yang sederhana, terukur, dan mudah diterapkan.
Meski demikian, perubahan perilaku tidak dapat dicapai hanya melalui sosialisasi dalam waktu singkat. Konsistensi edukasi, keterlibatan tokoh masyarakat, dukungan pemerintah desa, dan ketersediaan fasilitas pengelolaan menjadi unsur penting untuk menjaga keberlanjutan program.
Sinergi antara DLH HST dan UIN Antasari Banjarmasin diharapkan dapat memperluas partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Kolaborasi ini juga menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk berkontribusi langsung dalam menjawab persoalan lingkungan di daerah.
Melalui kerja sama tersebut, DLH HST berharap tumbuh kesadaran kolektif bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Langkah yang dimulai dari rumah dan diperkuat melalui gerakan di tingkat desa diharapkan mendukung terwujudnya Hulu Sungai Tengah yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.











