BeritaHULU SUNGAI TENGAH

Kisah Tangan Dingin Bripda Tamsa Menjemput Nyawa di Bawah Kolong Mobil

Avatar
×

Kisah Tangan Dingin Bripda Tamsa Menjemput Nyawa di Bawah Kolong Mobil

Sebarkan artikel ini

Barabai (KATAKUNCI) – Sore itu, Senin (15/12), langit di Desa Bungur, Kabupaten Balangan, terasa lebih berat bagi Bripda Muhammad Tamsa Wardhana. Aroma tanah makam nenek tercinta masih melekat di ingatannya. Di tengah perjalanan pulang menuju Barabai dengan hati yang masih diselimuti duka, Tamsa tak pernah menyangka bahwa takdir akan membawanya dari sebuah upacara kematian menuju sebuah perjuangan menyelamatkan kehidupan.

​Laju kendaraannya melambat saat pandangannya menangkap pemandangan pilu dari kejauhan. Sebuah mobil teronggok tak berdaya, sisa dari sebuah kecelakaan lalu lintas yang baru saja terjadi. Suasana masih sepi, hanya ada beberapa warga yang mulai berkerumun dengan wajah panik.

​Tamsa turun dari kendaraannya. Sebagai seorang polisi, instingnya berdenyut kencang melampaui rasa lelahnya. Di tanah, ia melihat seorang ibu tergeletak, mengerang menahan sakit, memohon pertolongan dengan suara parau yang menyayat hati.

​Namun, ada sesuatu yang mengusik nurani Tamsa. Di tengah rintihan sang ibu, ada kesunyian yang mencekam dari arah kolong mobil.

​”Awalnya saya hanya mendengar suara ibu itu. Tidak ada suara anak kecil sama sekali,” kenang Tamsa dengan nada bicara yang masih menyiratkan ketegangan.

​Ia merunduk, menyisir kolong mobil yang gelap dan terhimpit tumpukan pasir. Di sanalah, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Ia melihat sepasang kaki kecil yang diam membeku. Seorang anak tersangkut di kolong besi tua itu, terperangkap dalam sunyi yang berbahaya.

Tanpa memikirkan seragamnya yang akan kotor oleh debu dan tanah, Tamsa mengambil tindakan nekat. Saat warga bahu-membahu mencoba mengangkat badan mobil yang berat, Tamsa memilih jalur tersulit. Ia menjatuhkan tubuhnya ke tanah, tiarap merayap di sela-sela kaki warga yang sedang berjuang, masuk ke ruang sempit di bawah mesin.

​Dalam posisi tiarap dan napas yang memburu, Tamsa menggapai tubuh mungil itu. Dengan kelembutan seorang pelindung, ia menarik perlahan anak tersebut, memastikan tidak ada gesekan kasar yang memperparah luka. Napas lega baru keluar dari kerongkongannya saat tubuh sang anak berhasil ia dekap dan dibawa keluar ke udara bebas.

​Anak itu selamat. Meski kepala dihiasi luka lecet, ia masih memiliki kesempatan untuk kembali tersenyum. Tak butuh waktu lama, tim relawan segera melarikan korban ke Rumah Sakit Damanhuri Barabai.

​Bagi banyak orang, apa yang dilakukan Tamsa adalah aksi heroik. Namun bagi pemuda berseragam cokelat ini, itu hanyalah sebuah gerak spontan yang lahir dari rasa kemanusiaan yang mendalam.

​”Semua murni karena rasa kasihan melihat ibu yang meminta tolong. Saya hanya ingin membantu,” ucapnya rendah hati.

​Kisah Bripda Tamsa hari itu bukan sekadar tentang prosedur kepolisian, melainkan tentang seorang manusia yang memilih untuk hadir sepenuhnya bagi sesama. Di hari ia mengantarkan anggota keluarganya ke peristirahatan terakhir, ia justru berhasil menahan seorang anak kecil agar tidak pergi ke tempat yang sama.

​Di balik lencana yang ia kenakan, ada hati yang berdetak untuk keselamatan masyarakat ,sebuah bukti bahwa pahlawan seringkali hadir tanpa persiapan, hanya berbekal keberanian dan cinta.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *