BALANGANSEPUTAR KALSEL

Blokade Media! Organisasi Pers Balangan Boikot Panggung untuk Kampanye LGBT

Avatar
×

Blokade Media! Organisasi Pers Balangan Boikot Panggung untuk Kampanye LGBT

Sebarkan artikel ini

 

 

​Balangan. – Sejumlah organisasi pers lintas platform di Kabupaten Balangan mengambil langkah berani dan tidak populer demi menjaga marwah daerah. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), dan Komunitas Wartawan Admin Medsos (KOWAS) Balangan secara resmi menyatakan perang terhadap konten yang mengandung unsur normalisasi penyimpangan seksual (LGBT) di wilayah berjuluk Bumi Sanggam.

​Langkah tegas ini diambil menyusul viralnya kasus asusila sesama jenis yang mencoreng nama daerah. Para insan pers sepakat Media tidak boleh menjadi panggung bagi perilaku yang merusak tatanan sosial.

​Ketua PWI Balangan, Fitri M. Hidayatullah, menegaskan bahwa kebebasan pers di Balangan memiliki batasan moral, yakni nilai agama dan adat istiadat Banua.

​”Kami sepakat menutup rapat ruang kampanye LGBT dalam pemberitaan. Media harus mengedukasi dan mengawal aspek hukum, bukan justru memberi panggung pembenaran. Tugas kita adalah menjaga marwah daerah, bukan ikut-ikutan memviralkan hal yang melanggar norma,” tegas Fitri, Rabu (23/12/2025).

​Senada dengan PWI, Ketua JMSI Balangan, M. Alfahri Wanda, memastikan bahwa perusahaan media siber di bawah naungannya akan jauh lebih selektif. Menurutnya, media memiliki tanggung jawab besar sebagai filter informasi bagi masyarakat

​”Fokus kami adalah mendukung penegakan hukum dan memberi edukasi tentang bahaya konten pornografi. Kami satu suara: tidak ada ruang untuk kampanye LGBT,” kata Alfahri.

​Dari sisi media sosial, Ketua KOWAS Balangan, Rolly Supriadi, juga menyoroti bahaya “ruang sosialisasi” di jagat maya yang sering kali menjadi pintu masuk bagi ajakan perilaku menyimpang.

​”Jika diberikan ruang untuk mengeksplorasi pembenaran, jumlah pelaku akan terus bertambah. Sebagai admin medsos, kami akan memfilter ketat konten asusila agar tidak ada lagi ajakan atau normalisasi terhadap perilaku tersebut,” ungkap Rolly.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *