ArtikelBALANGANBeritaSEPUTAR KALSEL

Dua Dekade Kemandirian: Riwayat Panjang Lahirnya Bumi Sanggam

Avatar
×

Dua Dekade Kemandirian: Riwayat Panjang Lahirnya Bumi Sanggam

Sebarkan artikel ini

Foto//Kabupaten Balangan (sumber:istimewa)

Balangan (KATAKUNCI) – Di sebuah sore yang tenang di tepian Sungai Balangan, riak airnya seolah membisikkan cerita lama. Jauh sebelum gedung-gedung pemerintahan berdiri megah di Paringin, wilayah ini adalah hamparan mimpi yang dirajut oleh para tokohnya di ruang-ruang diskusi sederhana. Inilah riwayat Kabupaten Balangan, sebuah daerah yang lahir dari keberanian untuk mandiri.

Fajar Perjuangan: Lepas dari Induk

​Sejarah Balangan tidak bisa dilepaskan dari kabupaten induknya, Hulu Sungai Utara (HSU). Selama puluhan tahun, Balangan adalah bagian dari administrasi Amuntai. Namun, letak geografis yang berada di kaki Pegunungan Meratus menciptakan tantangan tersendiri. Jarak yang jauh menuju ibu kota induk sering kali membuat gerak pembangunan terasa lamban sampai ke pelosok desa di Halong atau Pitap.

​Memasuki era Reformasi 1999, semangat untuk mengelola rumah tangga sendiri membuncah. Adalah Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten Balangan (PPPKB) yang menjadi motor penggeraknya. Mereka bukan sekadar politisi, melainkan kumpulan guru, tokoh adat, petani, dan pemuda yang yakin bahwa Balangan memiliki modal yang cukup untuk berdiri di atas kaki sendiri.

8 April 2003: Ketukan Palu Sejarah

​Setelah melalui perdebatan panjang dan proses birokrasi yang melelahkan di Jakarta, titik terang itu muncul. Melalui UU Nomor 2 Tahun 2003, doa masyarakat Balangan terkabul.

​Tepat pada 8 April 2003, sebuah babak baru dimulai. Paringin, yang dulunya hanyalah kota kecamatan yang tenang, mendadak sibuk. Drs. H.M. Arsyad dilantik sebagai Penjabat Bupati pertama dengan tugas maha berat: membangun fondasi pemerintahan dari nol. Ia harus menyusun struktur dinas, menyiapkan kantor, dan meyakinkan masyarakat bahwa “perpisahan” dengan HSU adalah jalan menuju kesejahteraan.

Estafet Kepemimpinan di Bumi Sanggam

​Setelah masa transisi, kepemimpinan beralih ke tangan H. Sefek Effendie. Sebagai bupati definitif pertama yang menjabat selama dua periode (2005-2015), Sefek dikenal sebagai arsitek awal wajah Balangan. Di bawah kepemimpinannya, identitas “Bumi Sanggam” mulai mengakar, dan infrastruktur jalan mulai membelah hutan menuju desa-desa terpencil.

​Tongkat estafet kemudian berlanjut ke H. Ansharuddin (2016-2021), yang terus memoles wajah kota dan memperkuat sektor pelayanan publik. Kini, di era H. Abdul Hadi, Balangan sedang mencoba berlari lebih kencang, menyelaraskan kekayaan sumber daya alam dengan inovasi digital dan pembangunan manusia.

Menjaga Ruh “Sanggam”

​Kini, dua dekade setelah ketukan palu di DPR RI, Balangan telah tumbuh menjadi kabupaten yang disegani di Kalimantan Selatan. Sejarah pembentukannya selalu diperingati setiap tanggal 8 April bukan sekadar seremoni, melainkan sebagai pengingat akan janji suci para pendiri kabupaten.

​”Sanggam” bukan hanya slogan di gapura perbatasan. Ia adalah ruh yang menghidupkan sejarah Balangan yakni sebuah komitmen bahwa rakyat Balangan sanggup, gigih, dan amanah dalam menjaga tanah warisan datu mufakat ini.

​Sungai Balangan terus mengalir, saksi bisu bagaimana sebuah wilayah kecil bertransformasi menjadi daerah otonom yang gagah, membuktikan bahwa sejarah selalu berpihak kepada mereka yang berani berjuang demi kemajuan tanah airnya sendiri.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *