Barabai, ( KATAKUNCI ) – Pemerintah Desa Banua Binjai menggelar penyuluhan gizi bagi ibu hamil dan balita sebagai langkah strategis memutus mata rantai masalah kesehatan masyarakat sejak dini.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Posyandu Desa Banua Binjai pada Kamis (15/1/2026) ini dihadiri oleh Pembakal, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta narasumber ahli dari Puskesmas Barabai. Sebanyak 70 peserta yang terdiri dari kader posyandu, Ketua RT, hingga anggota BPD tampak antusias menyimak materi demi meningkatkan standar kesehatan lingkungan mereka.
Pembakal Desa Banua Binjai, Adriansyah, dalam arahannya menekankan bahwa kesehatan janin sangat bergantung pada asupan nutrisi ibu selama sembilan bulan masa kehamilan. Beliau mengibaratkan kondisi bayi yang lahir sebagai hilir, sementara masa kandungan adalah hulu yang harus dijaga kualitasnya agar tidak terjadi kendala kesehatan di masa depan.
“Kondisi di hilir sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di hulu, sehingga gizi ibu hamil menjadi pondasi utama keselamatan ibu dan anak,” ujar Adriansyah.
Langkah preventif ini diambil menyusul keprihatinan pemerintah desa terhadap tingginya angka kematian ibu dan bayi di wilayah tersebut selama beberapa tahun terakhir. Kasus ketuban pecah dini dan keguguran menjadi pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan melalui edukasi berkelanjutan bagi pasangan muda maupun kader kesehatan.
Ahli Gizi Puskesmas Barabai, Azkia Sa’ida, memaparkan bahwa masa balita merupakan masa keemasan (golden age) yang sangat krusial bagi perkembangan fisik serta kecerdasan otak. Ia memperkenalkan konsep “Isi Piringku” sebagai pengganti slogan lama, guna memastikan keseimbangan karbohidrat, protein hewani, sayur, dan buah-buahan dalam setiap porsi makan.
Azkia juga menekankan pentingnya pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak melalui rumus 4-1-5 untuk mencegah obesitas serta penyakit degeneratif sejak dini. Masyarakat diingatkan untuk lebih cermat memberikan makanan tambahan yang alami daripada memberikan jajanan instan atau sosis kemasan yang mengandung pengawet berlebih.
“Hindari memaksa anak makan karena tekanan emosional dapat menyebabkan trauma yang membuat anak justru semakin sulit mengenal tekstur dan rasa makanan sehat,” jelas Azkia
Penyuluhan ini turut mendemonstrasikan tahapan tekstur makanan, mulai dari ASI eksklusif, makanan lumat bagi usia enam bulan, hingga makanan keluarga saat anak menginjak usia satu tahun. Inovasi penambahan lemak sehat seperti santan atau minyak juga disarankan, khususnya bagi balita yang memiliki berat badan di bawah garis merah.
Melalui sinergi antara pemerintah desa dan tenaga medis, diharapkan tingkat kesadaran warga Banua Binjai terhadap gizi seimbang meningkat demi melahirkan generasi unggul yang bebas stunting. Program ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk rutin memantau tumbuh kembang anak di posyandu setiap bulan secara disiplin.











