Foto//Anggota DPRD HSU ,Anthonny dari Fraksi PKB
AMUNTAI – Di sebuah sudut kota Amuntai, ingatan tentang aroma kayu yang dipahat dan deru semen yang diaduk masih terekam jelas di benak Anthonny.
Pria berusia 45 tahun yang kini duduk sebagai Anggota DPRD Hulu Sungai Utara (HSU) dari Fraksi PKB ini, bukanlah sosok yang lahir dengan sendok perak di mulutnya. Ia adalah anak seorang tukang bangunan, yang kini membangun harapan rakyat melalui jalur politik.
Kehidupan Anthonny adalah refleksi dari sebuah kesederhanaan. Ayahnya adalah seorang kuli bangunan yang menghabiskan hari-harinya bermandikan keringat demi tegaknya rumah orang lain. Sementara ibunya, seorang ibu rumah tangga yang setia merajut doa di setiap sujudnya.
”Saya belajar tentang struktur kehidupan dari Ayah. Bahwa untuk membangun sesuatu yang kokoh, fondasinya harus jujur,” kenang Anthonny. Kesederhanaan itulah yang justru menjadi motor penggerak baginya untuk tidak mudah menyerah pada keadaan.
Langkah kaki Anthonny muda tidak hanya terpaku pada gang-gang sempit di Amuntai. Ia adalah seorang pengelana. Pergaulannya yang luas bermula dari kecintaannya pada alam. Ia menjadi salah satu arsitek di balik berdirinya REPALA (Remaja Pecinta Alam) Candi Agung.
Di komunitas inilah, jiwa kepemimpinannya teruji. Melewati jalur pendakian yang terjal dan dinginnya malam di hutan, Anthonny belajar bahwa pemimpin bukan mereka yang berjalan paling depan sendirian, melainkan mereka yang memastikan seluruh anggota kelompoknya sampai ke puncak dengan selamat.
Jika alam mengajarkannya ketangguhan, maka budaya mengajarkannya tentang akar. Kegelisahannya melihat seni tradisi yang mulai ditinggalkan generasi muda membuatnya mengambil langkah nyata. Ia mendirikan perguruan seni budaya tradisional Silau Kuntau yang diberi nama Perguruan Kuntau HANS.
Bagi Anthonny, Kuntau bukan sekadar seni bela diri. Di dalam gerak langkah Kuntau, terkandung filosofi harga diri dan perlindungan. Melalui Kuntau HANS, ia merangkul pemuda-pemuda HSU, memberikan mereka wadah agar tidak kehilangan identitas di tengah gempuran modernisasi.
Kini, di usianya yang ke-45, Anthonny membawa semua bekal itu,didikan keras sang ayah, ketangguhan pecinta alam, dan kedisiplinan pendekar Kuntau,ke gedung DPRD HSU. Sebagai kader PKB, ia dikenal sebagai legislator yang tidak berjarak dengan masyarakat.
Ia bukan tipe pejabat yang hanya duduk di balik meja. Ia sering terlihat turun langsung, mendengar keluh kesah para buruh, petani, dan anak muda. Baginya, kursi parlemen hanyalah “alat” untuk memastikan bahwa anak-anak tukang bangunan lainnya di HSU memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi dan mewujudkannya.*











