Foto//Penuh lumpur/Mahasiswa Univsm Balangan rela menempuh perjalanan jauh kepelosok desa demi salurkan bantuan korban banjir
Balangan. (KATAKUNCI). Ada sebuah garis tipis yang memisahkan antara tugas akademik dan panggilan nurani. Pekan lalu, di bawah langit Kabupaten Balangan yang masih menyisakan sisa-sisa mendung pasca-bencana, garis itu lebur. Universitas Sapta Mandiri (UNIVSM) tidak sedang mengirim mahasiswanya untuk mengejar nilai, melainkan untuk menjemput harapan yang nyaris padam di pelosok Kalimantan Selatan.
Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan formalitas. Di garda terdepan, para aktivis dari BEM Universitas Sapta Mandiri dan BEM Fakultas bergerak sebagai mesin utama kemanusiaan. Mereka bukan datang sebagai tamu, melainkan sebagai relawan yang siap kotor. Koordinasi lapangan yang dimotori oleh BEM memastikan bantuan tepat sasaran, mulai dari distribusi logistik hingga pengorganisir kegiatan di tiap titik bencana.
Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan jarak, melainkan perjuangan menembus isolasi. Di Desa Kaitan, Kecamatan Tebing Tinggi, langkah kaki para mahasiswa Program Studi PGSD terhenti di depan sebuah bangunan sederhana yakni SD Raranum.
Pasca-bencana, ruang-ruang kelas di sana sempat membisu. Namun, kehadiran para calon guru ini mengubah sunyi menjadi tawa. Mereka tidak datang membawa setumpuk silabus yang kaku. Sebaliknya, mereka hadir sebagai kakak yang merangkul, sahabat yang mendengarkan, dan penyembuh luka psikis bagi anak-anak desa.
Di bawah atap yang bersahaja, pendidikan kembali berdenyut. “Memastikan anak-anak di pelosok tetap bisa bermimpi adalah prioritas utama kami,” tutur Rektor UNISM, Abdul Hamid, S.Kom., M.M. M.Kom. Baginya, setiap senyum anak desa adalah bukti bahwa pelita pendidikan tidak boleh redup oleh lumpur bencana.
Lain lagi ceritanya di Desa Binuang Santang, ujung Kecamatan Halong. Di sana, masyarakat adat berdiri di tengah ketidakpastian akan hak-hak mereka. Di sinilah mahasiswa Program Studi Hukum UNIVSM hadir dengan cara yang berbeda.
Tak ada setelan jas rapi atau ruang sidang yang dingin. Yang ada hanyalah mahasiswa yang duduk bersimpuh bersama warga di atas tikar, berdiskusi di bawah kerindangan pohon. Mereka membawa misi literasi hukum yang menjelaskan bahwa hukum bukan sekadar deretan pasal di buku tebal, melainkan instrumen untuk menjaga martabat manusia.
”Insya Allah, mahasiswa kami akan menjadi pembela dan pengedukasi bagi masyarakat adat,” ungkap Abdul Hamid. Di Binuang Santang, para mahasiswa belajar bahwa keadilan sejati justru sering kali harus dicari di jalanan berlumpur, jauh dari kemewahan kota.
Hal paling indah dari perjalanan satu pekan ini adalah runtuhnya tembok hierarki. Di medan yang sulit, kata “Rektor”, “Dosen”, atau “Mahasiswa” seolah kehilangan maknanya. Yang tersisa hanyalah manusia-manusia yang saling bahu-membahu.
Tangan-tangan yang biasanya memegang pena dan laptop, kini cekatan memanggul bantuan logistik. Tak ada sekat antara tenaga kependidikan dan mereka yang dididik. Semuanya menyatu dalam satu ritme yakni rasa kemanusiaan yang mendalam. Mereka memberikan bantuan fisik dengan tangan, dan penguatan psikis dengan hati.
Bagi tim UNIVSM, kepulangan dari Balangan bukanlah akhir dari sebuah misi. Lumpur yang menempel di sepatu dan lelah yang merasuk di badan adalah saksi bisu sebuah janji pengabdian yang lebih panjang.
Di desa-desa sunyi yang nyaris tak terjamah itu, mereka tidak hanya memberikan bantuan. Mereka justru menemukan arti pendidikan yang sesungguhnya bahwa ilmu hanya akan menjadi mulia jika ia mampu membalut luka dan menghapus air mata .











