Barabai (KATAKUNCI) – Statistik inflasi di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) menjadi cermin kondisi ekonomi nyata masyarakat, dengan angka Januari 2026 mencapai 0,48% dan perlu antisipasi guna menekan tekanan harga jelang bulan puasa.
Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah yang menjadi wadah pemaparan data ini berlangsung pada Senin (9/2/2026), tepat pada minggu pertama bulan Februari. Acara ini sangat strategis mengingat inflasi Januari tergolong tinggi dan masyarakat akan menghadapi momen Ramadan yang diperkirakan dimulai sekitar tanggal 18 atau 19 Februari mendatang.
Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten HST Deddy Winarno menjelaskan pentingnya data statistik sebagai alat evaluasi bagi pemerintah daerah. “Kalau boleh diibaratkan ya, statistik itu ibarat cermin ya. Jadi melihat kita apa adanya,” ucapnya dalam sambutannya.
Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2025 yang menugaskan BPS untuk mengukur pencapaian Astacita dalam rangka mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045.
Metodologi penghitungan inflasi yang digunakan BPS mengacu pada standar internasional dari PBB, sehingga hasilnya dapat dibandingkan antar wilayah bahkan negara. Indonesia menjadi unik dengan menghitung inflasi di 150 kabupaten/kota, berbeda dengan negara lain yang hanya fokus pada beberapa kota besar.
Kondisi ini disesuaikan dengan keragaman geografis, ekonomi, dan pola konsumsi masyarakat yang sangat variatif di seluruh nusantara.
Pemerintah pusat hingga daerah sangat memperhatikan stabilitas inflasi, dengan melakukan rapat koordinasi setiap Senin. Tujuan utama adalah menjaga keseimbangan harga dan mengurangi kesenjangan antara daerah produsen dan konsumen.
HST termasuk salah satu dari lima daerah representatif di Kalimantan Selatan yang menjadi fokus pemantauan, sementara wilayah sekitar seperti Tapin, HSS, dan HSU mengacu pada data inflasi HST.
Hasil Survei Biaya Hidup tahun 2022 menunjukkan struktur pola konsumsi masyarakat HST yang terdiri dari 239 komoditas yang dihitung inflasinya. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan kota besar seperti Banjarmasin atau Jakarta yang memiliki variasi komoditas lebih banyak.
Bobot setiap komoditas ditentukan oleh intensitas konsumsi masyarakat, misalnya ikan gabus memiliki bobot yang lebih besar di HST dibandingkan daerah lain di Kalsel.
Proses pencatatan data inflasi dilakukan dengan sistem kontrol kualitas yang ketat, di mana tim BPS mencacah harga harian langsung dari konsumen dan membandingkannya dengan data dari tingkat produsen maupun pedagang besar.
Jika ditemukan anomali harga pada salah satu responden, akan dilakukan konfirmasi ulang untuk memastikan akurasi data. Setiap tim pencacah bekerja secara independen untuk menjaga objektivitas hasil pengukuran.
Inflasi bulan-ke-bulan (m-to-m) HST sebesar 0,48% berada di posisi tengah jika dibandingkan tahun sebelumnya, dengan Januari 2024 mencapai 1,85% dan Januari 2025 mengalami deflasi -0,46%.
Secara nasional terjadi deflasi 0,15%, sedangkan Provinsi Kalsel mencatat inflasi 0,2%, menjadikan HST sebagai daerah dengan pertumbuhan harga yang lebih tinggi dalam periode yang sama.
Komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi HST adalah ikan sungai seperti papuyu, gabus, dan sepat, emas perhiasan, serta sayuran seperti tomat, bayam dan sawi hijau. Sementara itu, beberapa komoditas seperti bawang merah, cabai merah, terong, dan pepaya mengalami penurunan harga. Kenaikan harga ikan sungai dipengaruhi oleh musim penghujan yang menyulitkan aktivitas penangkapan.
Inflasi tahun-ke-tahun (y-on-y) HST mencapai 4,91% yang tergolong sangat tinggi, sebagian besar disebabkan oleh efek low base dari kebijakan diskon listrik 50% pada Januari-Februari 2025. Target inflasi ideal yang diinginkan pemerintah adalah antara 1,5% hingga 3,5% untuk menjaga keseimbangan daya beli dan keuntungan produsen.
Beberapa risiko yang akan dihadapi dalam tiga bulan ke depan meliputi penipisan stok beras, permintaan tinggi jelang Ramadan dan Idulfitri, serta fluktuasi harga emas internasional.
Kondisi komoditas strategis seperti beras menunjukkan tren kenaikan harga di beberapa daerah, meskipun selama tahun 2024-2025 pemerintah berhasil menjaga pasokan dengan harga yang lebih murah.
Komoditas lain seperti daging ayam ras yang masih bergantung pada pasokan luar daerah menunjukkan harga rata-rata Rp36.526 per kilogram pada minggu pertama Februari, dengan potensi kenaikan permintaan jelang puasa.
Telur saat ini cukup stabil namun perlu dipantau, sedangkan harga cabai dan lombok tetap sangat fluktuatif meskipun HST merupakan penghasil cabai rawit terbesar kedua di Kalsel.











