foto//Alm H Fahmi Wahid
Balangan . Ada sebuah kehangatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata saat pertama kali Anda menginjakkan kaki di kediaman Fahmi Wahid di Balangan. Bukan sekadar sambutan ramah seorang tuan rumah, melainkan aura riang yang terpancar dari wajahnya saat ia berdiri di antara ratusan pot anggrek Meratus miliknya.
Sabtu ini, 10 Januari 2026, dunia terasa sedikit lebih sunyi. Kabar berpulangnya Yahnda Fahmi, begitu saya akrab menyapanya, terasa seperti sebuah jeda yang tak terduga dalam sebuah puisi yang sedang asyik-asyiknya kita baca.
Bagi saya, mengenang Fahmi Wahid adalah mengenang tangan yang kotor oleh tanah sekaligus jemari yang lincah menari di atas kertas. Saya ingat betul bagaimana ia bercerita tentang “berburu” anggrek. Baginya, mendaki tebing Meratus untuk mencari seuntai spesies Vanda atau Dendrobium adalah proses puitis yang sama beratnya dengan mencari rima yang tepat untuk sebuah sajak.

Ia tidak pernah menyebut dirinya sebagai ahli botani, melainkan seorang “Hobbis”. Namun, melihat cara ia menyirami lebih dari 500 spesies anggrek di halaman rumahnya yang bersahaja, saya tahu itu adalah bentuk cinta yang paling murni. Ia tidak hanya menulis tentang alam , ia merawatnya. Ia membuktikan bahwa seorang penyair harus memiliki akar yang kuat pada tanah yang ia pijak.
Kenangan lain yang melekat adalah saat ia mulai bercerita tentang Vespanya. Fahmi adalah penyair yang tidak bisa diam. Ia adalah musafir. Saya masih bisa membayangkan deru mesin motor klasiknya yang memecah keheningan pedalaman Kalimantan. Di atas roda dua itulah, ia mengumpulkan remah-remah cerita yang kemudian ia susun menjadi antologi Suara Orang Pedalaman dan Perjalanan Debu.

”Menulislah dengan bergerak,” pesannya suatu kali saat kami berbincang di tengah koleksi barang antik kuningannya. Di kelilingi oleh kinangan, pakucuran, dan lampu gantung peninggalan masa lalu, Fahmi tampak seperti seorang penjaga waktu. Ia tidak ingin kita menjadi bangsa yang amnesia. Lewat benda-benda antik itu, ia mengingatkan saya bahwa tugas penulis adalah mengawetkan ingatan agar tidak habis dimakan rayap zaman.
Fahmi adalah jembatan bagi kami, para penulis yang lebih muda. Sejak masanya di PGAN Barabai hingga menjadi tokoh besar di Dewan Kesenian Balangan, ia tidak pernah kehilangan kerendahhatiannya. Ia adalah tipe orang yang tetap bisa tertawa riang, memamerkan bunga anggrek yang baru mekar, sesaat setelah ia menerima penghargaan seni bergengsi.
Kini, sosok pria kelahiran 1964 yang selalu riang itu telah sampai di ujung perjalanan. Ia tidak lagi berkeliling Kalimantan dengan Vespanya, atau mendaki Meratus mencari anggrek langka. Namun, setiap kali saya melihat kelopak anggrek hutan atau mendengar deru Vespa di jalanan, saya akan teringat padanya.
Ia telah mewariskan lebih dari sekadar buku yakni ia mewariskan sebuah cara hidup. Bahwa menjadi manusia seutuhnya adalah tentang menjaga keseimbangan antara hobi, karya, alam, dan Tuhan.
Selamat jalan, Pa Fahmi. Terima kasih telah mengajarkan kami bahwa puisi terbaik adalah hidup yang dijalani dengan penuh syukur dan semangat yang tak pernah padam. Anggrekmu akan tetap mekar dalam doa-doa kami
H. Fahmi Wahid adalah bukti bahwa seorang budayawan sejati adalah ia yang tetap membumi meski karyanya telah melitasi batas negara. Antara deru mesin motor tua dan harum anggrek hutan, ia menuliskan takdirnya sebagai penjaga memori Banua yang takkan lekang oleh waktu.











