Foto//Bersahaja : Wakil Bupati Balangan, Ahkmad Fauzi
Balangan (KATAKUNCI) – Di balik deretan penghargaan nasional yang kini menghiasi Kabupaten Balangan, ada sosok tenang yang menjadi pilar keseimbangan bagi Bupati H. Abdul Hadi. Ia adalah H. Akhmad Fauzi, S.Pd., pria kelahiran Hulu Sungai Utara, 7 Oktober 1962, yang kini mengemban amanah sebagai Wakil Bupati Balangan periode 2025-2030.
Jika Bupati Abdul Hadi adalah mesin inovasi yang bergerak cepat, maka Akhmad Fauzi adalah “ruh” pengabdian yang memastikan setiap kebijakan tetap membumi.
Perjalanan hidup Akhmad Fauzi adalah potret nyata dari ketekunan seorang pendidik. Jauh sebelum dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada 20 Februari 2025 lalu, Fauzi adalah seorang guru yang mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan anak bangsa di tingkat akar rumput.
Kariernya di dunia pendidikan bukan diraih dengan instan. Beliau memulai perjalanan akademiknya dengan menempuh program D2 di UPBJJ Banjarmasin dan menyelesaikannya pada tahun 2000. Tak berhenti di situ, semangat belajarnya terus membara hingga ia berhasil meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada tahun 2015 di institusi yang sama.
Loyalitasnya tak perlu diragukan. Selama 32 tahun (1984-2016), ia aktif sebagai anggota PGRI Kecamatan Lampihong. Pengabdian tanpa jeda ini membuahkan penghargaan tertinggi bagi abdi negara, yaitu Satyalancana Karya Satya XXX Tahun dari Presiden Republik Indonesia pada tahun 2015.
Karakter seorang guru yang sabar, disiplin, dan teliti terbawa hingga ke kursi pemerintahan. Dalam setahun masa kepemimpinannya mendampingi Abdul Hadi, Fauzi dikenal sebagai sosok yang sangat bersahaja. Ia tidak kaku dengan protokoler dan lebih sering terlihat sebagai sosok ayah bagi masyarakat Balangan.
Latar belakangnya sebagai alumnus SMAN Paringin tahun 1983 membuatnya sangat memahami karakteristik masyarakat lokal. Ia bukan sekadar pejabat yang duduk di balik meja, melainkan saksi sejarah perkembangan Balangan dari masa ke masa.
Kesahajaan Akhmad Fauzi semakin lengkap dengan kehadiran sang istri, Hj. Yanti Fauzi. Menariknya, Hj. Yanti juga merupakan seorang guru, sehingga pasangan ini sering dijuluki sebagai duet pendidik yang mengabdi untuk Bumi Sanggam.
Latar belakang profesi yang sama membuat Hj. Yanti menjadi pendamping yang sangat memahami ritme kerja dan integritas sang suami. Sebagai istri Wakil Bupati, ia kini mengemban peran strategis di organisasi kemasyarakatan, namun jiwa gurunya tetap melekat. Ia menjadi “jangkar” yang mengingatkan pentingnya aspek pendidikan dan pembangunan karakter dalam setiap langkah kepemimpinan suaminya.
Kehadiran Hj. Yanti di sisi Fauzi dalam setiap kegiatan sosial memberikan kesan hangat dan kekeluargaan bagi masyarakat Balangan. Pasangan ini membuktikan bahwa nilai-nilai pendidikan,seperti kesabaran, kedisiplinan, dan keteladanan bisa menjadi fondasi yang kuat dalam menjalankan roda pemerintahan
”Kekuasaan bagi beliau adalah perluasan dari ruang kelas. Jika dulu beliau membimbing puluhan siswa, kini beliau membimbing ribuan warga menuju kesejahteraan,” ujar salah satu kolega lamanya di PGRI.
Salah satu peran krusial yang dimainkan Fauzi setahun terakhir adalah menjaga integritas tata kelola keuangan daerah. Ketelitiannya sebagai pendidik berkontribusi besar pada keberhasilan Balangan mempertahankan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI.
Ia berdiri teguh di samping Abdul Hadi dalam melakukan efisiensi anggaran.Baginya, setiap rupiah uang negara harus kembali menjadi manfaat bagi rakyat, entah itu lewat akses kesehatan gratis atau melalui beasiswa dalam program 1.000 Sarjana yang sangat ia dukung.
Akhmad Fauzi tetaplah “Urang Banua” yang rendah hati. Gaya bicaranya yang santun dan penampilannya yang rapi namun sederhana menjadi cermin identitas masyarakat Balangan yang religius dan berbudaya.
Kini, di bawah kepemimpinan duet Abdul Hadi dan Akhmad Fauzi, Balangan tidak lagi hanya dikenal sebagai daerah perlintasan. Di tangan seorang inovator dan seorang guru senior, Bumi Sanggam bertransformasi menjadi daerah yang disegani secara nasional,sebuah bukti bahwa kesahajaan jika dipadukan dengan visi yang kuat, mampu melahirkan keajaiban bagi daerah.*











