Foto// Podcast Radio Gelora Sanggam bersama, dr. Islamiah, (Tangkapan layar)
Balangan. (KATAKUNCI). _ Jagat media sosial di Kabupaten Balangan baru-baru ini digemparkan oleh kasus orientasi seksual menyimpang (LGBT) yang melibatkan seorang figur publik lokal. Menanggapi keresahan masyarakat, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Islamiah, Sp.KJ, angkat bicara untuk meluruskan persepsi dari sudut pandang medis dan psikologis.
Melangsir dari perbincangan bersama Radio Gelora Sanggam, dr. Islamiah memaparkan fakta mengejutkan yang mungkin belum banyak diketahui publik. Menurutnya, secara keilmuan medis modern, LGBT tidak lagi dikategorikan sebagai gangguan jiwa.
Dokter Islamiah menjelaskan bahwa sejak tahun 1973, organisasi psikologi dunia telah mengeluarkan LGBT dari daftar gangguan jiwa.
”Secara ilmiah, ini disebut sebagai disorientasi seksual. Artinya, secara alur pikir dan logika, mereka tetap normal dan bisa bekerja secara produktif. Mereka bukan ‘orang gila’,” tegas dr. Islamiah.
Namun, ia tidak menampik bahwa dari sisi agama dan norma sosial di Indonesia, hal ini tetap dianggap sebagai penyimpangan kodrat.
Dokter Islamiah menyebutkan faktor penyebabnya sangat kompleks dan luas, di antaranya yakni Trauma Masa Kecil dimana adanya kekerasan seksual atau melihat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Kemudian ada juga Pola Asuh yang mana keinginan orang tua yang memaksakan gender tertentu pada anak (misal: menginginkan anak perempuan padahal lahir laki-laki).
Yang lebih penting ada pengaruh Lingkungan berupa Lingkungan yang tertutup dan hanya berinteraksi dengan sesama jenis dalam waktu lama tanpa edukasi seksual yang tepat.
Menariknya, dr. Islamiah menyebutkan bahwa banyak pelaku disorientasi seksual tidak merasa dirinya sakit. “Terapi biasanya baru dilakukan jika si individu merasa tersiksa secara batin karena benturan nilai agama, atau jika tekanan dari masyarakat menyebabkan mereka depresi dan ingin bunuh diri,” tambahnya.
Bagi mereka yang ingin kembali ke “jalan yang lurus” sesuai keyakinannya, dunia medis menyediakan metode Psikiatri Religi, sebuah kolaborasi antara ilmu kedokteran jiwa dan pendekatan spiritual.
Menutup perbincangan, dr. Islamiah mengingatkan pentingnya edukasi seksual sejak dini di lingkungan keluarga agar anak tidak mencari informasi yang salah di luar. Ia juga menekankan bahwa “penyakit jiwa” yang sesungguhnya seringkali muncul bukan dari orientasinya, melainkan dari depresi akibat diskriminasi dan perundungan (bullying) yang diterima dari lingkungan sekitar.*











