HUKUMHULU SUNGAI TENGAH

Luka Mendalam Bumi Murakata: Menolak Lupa Lima Tahun Tragedi Air Bah

Avatar
×

Luka Mendalam Bumi Murakata: Menolak Lupa Lima Tahun Tragedi Air Bah

Sebarkan artikel ini

Barabai, ( KATAKUNCI ) – Kabupaten Hulu Sungai Tengah ( HST ) berselimut duka saat mengenang kembali lima tahun peristiwa banjir bandang dahsyat yang meluluhlantakkan wilayah tersebut.

Tepat pada Rabu, (14/1/2026), masyarakat HST merenungi amuk alam yang terjadi pada tanggal yang sama di tahun 2021 silam.

Liduran air bah kala itu tidak hanya menyapu permukiman, namun juga menghancurkan infrastruktur vital serta merenggut nyawa warga dalam sekejap mata.

Tragedi ini menjadi lonceng peringatan keras bagi seluruh elemen daerah mengenai betapa krusialnya penguatan mitigasi serta kesiapsiagaan bencana di masa depan.

Pasca-bencana, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan relawan terus dipacu demi memulihkan ekosistem sekaligus meminimalisir risiko pengulangan sejarah kelam tersebut.

Adi, seorang penyintas yang kehilangan tempat tinggalnya, mengungkapkan bahwa memori tentang gemuruh air malam itu masih membekas kuat di sanubarinya.

“Kami berharap banjir mengerikan seperti itu tidak pernah terjadi lagi menghantui anak cucu kami,” ungkapnya dengan nada penuh harapan.

Ia menekankan bahwa pemulihan lingkungan bukan sekadar tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif setiap individu yang berpijak di Bumi Murakata.

“Masyarakat siap bergotong royong, namun kami menuntut keseriusan nyata dalam penerapan langkah pencegahan agar alam kembali bersahabat,” tegas Adi menambahkan.

Kronologi bencana bermula saat Desa Alat di Kecamatan Hantakan diterjang banjir kiriman pada Rabu malam sebelum air mencapai atap rumah pada dini hari berikutnya.

Hujan ekstrem yang tak kunjung reda memaksa Sungai Barabai meluap hingga merendam jantung kota, termasuk perkantoran pemerintah serta fasilitas kesehatan utama daerah.

Ketinggian air di Lapangan Dwi Warna yang biasanya dangkal, mendadak berubah menjadi lautan cokelat sedalam dada manusia hingga melumpuhkan total nadi kehidupan.

Pada pemukiman di bantaran sungai, terjangan arus bahkan menenggelamkan seluruh bangunan hingga hanya menyisakan pucuk atap yang terlihat dari kejauhan.

Maiyah, warga Barabai, menceritakan keheranannya karena wilayah yang sebelumnya selalu aman dari luapan air kini justru ikut terendam hingga ke dalam rumah.

“Biasanya halaman kami selalu kering, namun kali ini air masuk tanpa ampun hingga merusak harta benda,” kenang Maiyah menggambarkan situasi darurat tersebut.

Kepanikan kian memuncak saat jaringan komunikasi terputus total dan aliran listrik dipadamkan, memaksa ribuan warga bertaruh nyawa di tengah kegelapan menuju pengungsian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *