ArtikelBALANGANBeritaNEWSSEPUTAR KALSEL

Menakar “DNA” Inovasi H. Abdul Hadi di Bumi Sanggam

Avatar
×

Menakar “DNA” Inovasi H. Abdul Hadi di Bumi Sanggam

Sebarkan artikel ini

 

Oleh : Redaksi Katakuncinews.com

 

​Ada sebuah adagium politik yang mengatakan bahwa pemimpin yang baik tahu jalan menuju perubahan, namun pemimpin yang hebat adalah mereka yang berani mengajak rakyatnya berjalan bersama menuju perubahan itu. Di Kabupaten Balangan, adagium ini menemukan wujud nyatanya dalam sosok H. Abdul Hadi.

​Melihat transformasi Balangan di tahun 2025 bukan sekadar melihat deretan trofi di lemari kaca kantor bupati. Lebih dari itu, kita sedang menyaksikan bagaimana sebuah daerah yang dulunya hanya dianggap sebagai “wilayah perlintasan”, kini bertransformasi menjadi “wajah depan” inovasi nasional.

​Pencapaian Balangan sebagai Kabupaten Terinovatif dengan Indeks Inovasi Daerah (IID) tertinggi nasional dalam ajang Innovative Government Award (IGA) 2025 adalah anomali yang menyegarkan. Mengapa? Karena di banyak tempat, inovasi seringkali terjebak dalam jebakan administratif, sekadar mengejar aplikasi atau nomenklatur baru demi penghargaan.

​Namun, di tangan putra asli Desa Kapul ini, inovasi diposisikan sebagai solusi atas jarak. Dengan mewajibkan setiap SKPD hingga tingkat kecamatan melahirkan terobosan, Abdul Hadi sedang memangkas birokrasi yang gemuk menjadi layanan yang ramping, cepat, dan menyentuh hingga ke dapur warga di pelosok Halong atau Tebing Tinggi.

​Infrastruktur fisik seperti jalan dan jembatan memang penting, namun Abdul Hadi memahami bahwa beton akan keropos dimakan waktu. Fondasi abadi sebuah daerah adalah kualitas otaknya. Program “1.000 Sarjana” adalah investasi jangka panjang yang paling berisiko bagi politisi jangka pendek, namun menjadi langkah paling brilian bagi seorang negarawan.

​Dengan mengirimkan anak muda Balangan ke berbagai universitas hingga ke Tarim, Hadramaut, ia sedang merajut dua identitas penting, kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual. Ini adalah upaya “menanam” manusia yang hasilnya mungkin baru akan dipanen satu dekade mendatang, namun efeknya akan mengubah struktur sosial-ekonomi Balangan selamanya.

​Satu hal yang sulit ditiru dari kepemimpinan Abdul Hadi adalah kemampuannya tetap menjadi “Urang Banua” di tengah sorotan panggung nasional. Di balik raihan WTP dari BPK, eliminasi malaria, hingga predikat Kota Layak Anak (KLA) Nindya, ia tetaplah sosok yang mau duduk mendengar keluh kesah di pasar desa.

​Keberhasilannya menggandeng H. Akhmad Fauzi untuk melakukan efisiensi anggaran tanpa memangkas hak rakyat menunjukkan bahwa ia adalah manajer yang handal sekaligus politisi yang empatik. Ia membuktikan bahwa untuk menjadi modern, kita tidak perlu tercerabut dari akar budaya dan kesantunan lokal.

​Transformasi “Bumi Sanggam” adalah bukti bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang jika dikelola dengan visi yang jernih. H. Abdul Hadi telah menaikkan standar kepemimpinan di Kalimantan Selatan. Ia menunjukkan bahwa dari sebuah desa kecil bernama Kapul, seorang pemimpin bisa membawa daerahnya berbicara lantang di kancah nasional.

​Tantangan ke depan tentu tidak mudah, namun dengan fondasi inovasi dan integritas yang sudah diletakkan, Balangan bukan lagi sekadar nama di peta perlintasan. Ia adalah mercusuar kemajuan di Kalimantan Selatan.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *