Balangan (KATAKUNCI) – Jika Anda berkendara menuju utara Kabupaten Balangan, Anda akan memasuki sebuah wilayah di mana aroma tanah hutan menyatu dengan kekhusyukan doa. Inilah Kecamatan Juai, sebuah daerah yang namanya bukan sekadar titik di peta, melainkan sebuah prasasti hidup tentang alam dan spiritualitas Banua.
Dahulu kala, menurut penuturan para tetua dan cerita sejarah lokal, wilayah ini tidak dikenal dengan nama Juai. Masyarakat mengenalnya sebagai Beluning. Nama tersebut merujuk pada hamparan alam yang masih sangat asri sebelum peradaban modern menyentuhnya.
Perubahan nama menjadi “Juai” diyakini berasal dari nama sebuah pohon atau tumbuhan hutan yang dahulu tumbuh mendominasi tepian sungai dan hutan di wilayah tersebut.
Sebagaimana tradisi toponimi masyarakat Kalimantan yang kerap menamai daerah berdasarkan vegetasi yang tumbuh subur, “Juai” pun abadi menjadi identitas desa, yang kini berkembang menjadi nama kecamatan.
Selama ini, banyak yang mengenal Juai hanya sebagai sebuah kecamatan biasa atau destinasi ziarah. Namun, sebuah fakta sejarah kini diangkat kembali ke permukaan, membawa kita bernostalgia ke masa ketika wilayah ini masih berstatus sebagai Distrik Juai.
Narasi sejarah ini kembali segar lewat penjelasan Nanang Edward, seorang tokoh pemuda yang kini menjabat sebagai Camat Juai. Ia mencoba menarik benang merah yang sempat terputus dalam ingatan generasi muda.
”Kecamatan Juai ini sudah ada sejak sebelum kemerdekaan dengan nama Distrik Juai,” ungkap Nanang dengan nada tegas.
Fakta yang paling memikat adalah tentang pusat komando pemerintahan. Jika saat ini pusat keramaian tersebar, di jaman kolonial Belanda, pusat gravitasi birokrasi justru bukan berada di Desa Juai, melainkan di Desa Galumbang.
Kala itu, Galumbang adalah “metropolitan” kecil bagi urusan administrasi, tempat di mana kebijakan distrik diputuskan dan denyut nadi pemerintahan berdetak paling kencang.
Melangkah ke masa pasca-kemerdekaan, Juai mengalami transformasi besar yang mengubah wajah wilayahnya selamanya. Pada tahun 1960-an, Juai bukanlah sekadar kecamatan dengan banyak desa seperti sekarang, melainkan sebuah “Desa Induk” yang wilayahnya membentang luas tanpa sekat.
Efisiensi pelayanan menjadi alasan utama terjadinya sebuah peristiwa besar yakni pemekaran. Sang desa raksasa itu pun “membelah diri”.
”Pada era tahun 60-an itulah terjadi pemekaran besar. Desa Juai pecah menjadi beberapa desa, yaitu Desa Juai, Galumbang, Teluk Bayur, Bata, Lalayau, dan Mihu,” papar Nanang Edward. Peristiwa ini bukan sekadar pembagian administratif, melainkan kelahiran identitas-identitas baru yang kini menjadi pilar kekuatan Kecamatan Juai.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, tiap potongan dari “Desa Induk” tersebut telah menemukan takdirnya masing-masing.
Teluk Bayur tumbuh menjadi pusat spiritualitas yang tenang dengan keberadaan makam keramat Datu Kandang Haji.
Membicarakan Juai tanpa menyebut Datu Kandang Haji ibarat memisahkan tubuh dari jiwanya. Di Desa Teluk Bayur, Kecamatan Juai, bersemayam jasad seorang ulama besar bernama asli Patih Bentar Alam.
Sejarah mencatat, sang Datu bukan hanya penyebar agama Islam, tetapi juga pelindung wilayah. Nama “Kandang Haji” muncul dari sebuah kisah heroik sekaligus spiritual. Konon, beliau “mengandangi” (memagari) desa tersebut dengan kekuatan doa dan karamah agar penduduknya selamat dari gangguan musuh dan marabahaya.
Hingga hari ini, makam beliau menjadi magnet bagi peziarah dari berbagai penjuru Kalimantan, menjadikan Juai sebagai pusat wisata religi yang tak pernah sepi.
Secara administratif, meskipun nama “Juai” tetap menjadi tajuk utama, pusat pemerintahan kini berada di Mungkur Uyam. Pergeseran ini menunjukkan dinamisnya perkembangan zaman.
Dari sebuah wilayah yang dulu dikenal sebagai pusat dakwah tradisional, kini Juai bertransformasi menjadi salah satu pilar ekonomi di Kabupaten Balangan, terutama di sektor perkebunan dan pertambangan.
Namun, di balik deru mesin dan pembangunan, Juai tetap menyimpan wajah aslinya: sebuah wilayah yang menghormati akar sejarahnya.
Setiap sudut jalan di Juai seolah berbisik tentang masa lalu, tentang pohon-pohon besar yang pernah bertahta, dan tentang doa-doa keselamatan yang dipanjatkan oleh para leluhur.
(Beberapa Sumber)











