ArtikelBALANGAN

Pahajatan : Miniatur Janji di Balik Rimbun Batu Piring

Avatar
×

Pahajatan : Miniatur Janji di Balik Rimbun Batu Piring

Sebarkan artikel ini

foto//pahajatan di Desa Tungkap Kelurahan Batu Piring. (Istimewa)

 

​Balangan . (KATAKUNCI). – Di balik rimbunnya pepohonan di Desa Tungkap Kelurahan Batu Piring, Kabupaten Balangan, terdapat sebuah pemandangan yang tak biasa. Ratusan rumah kayu berukuran mungil berdiri rapi, seolah membentuk sebuah perkampungan kecil bagi para liliput. Inilah Situs Pahajatan, sebuah oase budaya tempat di mana tradisi, rasa syukur, dan janji bertemu dalam harmoni yang sunyi.

​Bagi masyarakat lokal maupun pendatang, Pahajatan bukan sekadar tempat keramat. Ia adalah simbol keteguhan hati dalam memegang janji. Di sinilah tradisi “Mambayar Hajat” (membayar nazar) terus lestari, menjadikannya salah satu destinasi wisata budaya paling unik di Kalimantan Selatan.

​Memasuki area Pahajatan, pengunjung akan disambut oleh deretan rumah-rumah kecil dengan desain arsitektur khas Banjar. Ada yang setinggi lutut, ada pula yang megah setinggi orang dewasa. Uniknya, rumah-rumah ini tidak dihuni manusia.

​”Rumah-rumah ini adalah bentuk syukur. Jika seseorang bernazar dan keinginannya terkabul, mereka membangun satu rumah kecil di sini sebagai bentuk pengingat bahwa janji telah ditepati,” ujar sang Juru Kunci yang telah menjaga situs ini secara turun-temurun.

​Fenomena ini menciptakan pemandangan yang estetik sekaligus magis. Bagi para pecinta fotografi dan budaya, Pahajatan menawarkan visual yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia yakni sebuah “kota mini” yang tumbuh secara organik di tengah hutan kecil.

Bagi masyarakat lokal, Situs Pahajatan bukan sekadar tempat keramat biasa. Banyak yang meyakini bahwa situs ini memiliki keterkaitan spiritual dengan Kerajaan Candi Agung, kerajaan kuno yang menjadi cikal bakal berdirinya Kesultanan Banjar.

​Konon, wilayah Batu Piring dahulu merupakan jalur perlintasan atau wilayah pengaruh para bangsawan kerajaan. Tradisi membangun “rumah-rumahan” ini dipercaya sebagai bentuk penghormatan kepada entitas atau leluhur yang menjaga wilayah tersebut, sebuah praktik yang sudah ada sejak zaman kerajaan sebelum Islam masuk secara masif ke tanah Banjar. Hubungan ini menjadikan Pahajatan bukan hanya situs lokal, melainkan bagian dari mozaik sejarah besar Kalimantan Selatan.

​Di balik kesan mistis yang sering dibicarakan, Pahajatan sebenarnya menyimpan pesan moral yang sangat positif bagi generasi masa kini: Integritas.

​Setiap miniatur rumah yang berdiri adalah bukti bahwa seseorang telah menepati ucapannya. Di zaman di mana janji sering kali mudah dilupakan, Pahajatan menjadi pengingat bisu bahwa setiap kata yang terucap memiliki tanggung jawab yang harus dituntaskan.

​Masyarakat setempat juga sangat menjaga kebersihan dan kelestarian situs ini. Ada aturan tak tertulis untuk selalu menjaga lisan dan menjaga keasrian alam sekitar, sebuah nilai kearifan lokal dalam melestarikan ekosistem hutan yang masih tersisa di tengah perkembangan kota Paringin.

​Pemerintah Kabupaten Balangan pun mulai melirik potensi ini sebagai daya tarik wisata religi dan budaya. Keberadaan Pahajatan memberikan warna berbeda bagi pariwisata daerah, ia menawarkan ketenangan dan refleksi batin bagi siapa saja yang berkunjung.

​Bagi Anda yang ingin merasakan suasana tenang sembari mengagumi detail kerajinan kayu warga lokal, Pahajatan adalah tempatnya. Datanglah pada hari Senin atau Jumat untuk merasakan denyut tradisi yang paling kental, di mana aroma dupa dan semilir angin pegunungan menyatu, membawa pesan bahwa harapan dan rasa syukur akan selalu menemukan jalannya untuk pulang.

​”Pahajatan bukan tentang apa yang kita minta, tapi tentang bagaimana kita menghargai apa yang telah kita terima.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *