Barabai (KATAKUNCI) – Rapat koordinasi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) mengangkat tantangan teknologi era 5.0 dan pentingnya pendidikan karakter sebagai fokus utama pembangunan pendidikan daerah.
Kegiatan yang diadakan di Aula lantai 2 Bapperida kabupaten HST berlangsung pada hari Rabu (18/2) pagi, menghadirkan berbagai unsur terkait pendidikan agama dari jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Acara ini menjadi wadah untuk menyelaraskan langkah guru PAI dalam menghadapi dinamika zaman yang terus berkembang.
Menurut laporan Kepala Dinas Pendidikan HST, Muhammad Anhar, total peserta yang menghadiri kegiatan ini mencapai kurang lebih 101 orang. Peserta terdiri dari 40 guru PAI SMP dari 35 sekolah negeri dan swasta – di antaranya SMP Muhajirin dan SMPIT Al-Khair – serta 50 guru PAI SD khusus wilayah Kecamatan Barabai dan Batu Benawa, dibantu oleh 5 orang pengawas pembina.
“Data nasional menunjukkan IQ teknologi (AI) saat ini berada di angka 135, sementara rata-rata manusia berada di angka 120 dengan capaian Indonesia hanya 80-100,” jelas Anhar dalam paparannya.
Kondisi ini menjadi dasar utama perlunya transformasi paradigma pendidikan yang dulunya berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa, mengingat akses pengetahuan kini lebih mudah diperoleh melalui teknologi.
Pemerintah daerah menetapkan pendidikan karakter sebagai prioritas utama melalui program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”, yang diwujudkan dalam rapor karakter dan kurikulum adab sopan santun.
Tujuan utama kegiatan ini adalah memperkuat nilai-nilai adab, kebiasaan mengaji, serta disiplin salat pada siswa, dengan harapan guru agama dapat menjadi contoh nyata di lingkungan sekolah.
Wakil Bupati HST, Gusti Rosyadi Elmi, dalam sambutannya menekankan pentingnya pembiasaan shalat sejak dini berdasarkan ajaran Rasulullah SAW.
“Rasulullah menyuruh para orang tua untuk membiasakan anaknya shalat ketika umur 7 tahun. Sampai umur 10 tahun, bila tidak shalat, disuruh pukul sesuai dengan tuntunan agama namun dengan cara yang tidak sembarangan,” ujarnya.
Menurut dia, upaya pembinaan agama saat ini masih kurang optimal karena sebagian orang tua sendiri belum mampu menjadi teladan bagi anak-anak. Perintah untuk mengajak keluarga bershalat merupakan poin penting dalam Al-Qur’an yang tidak ditemukan pada ibadah lain seperti puasa atau zakat.
Guru PAI diharapkan mampu berkomunikasi dengan baik kepada orang tua siswa, sehingga perlu mengikuti pelatihan komunikasi dan psikologi anak untuk menyampaikan pesan agama dengan tepat.
Wakil Bupati juga mengajak para guru untuk senantiasa berdoa secara mendalam bagi setiap anak didik, terutama mereka yang memiliki tantangan dalam pembinaan agama. Doa yang disertai dengan rasa dan penghayatan akan memiliki kekuatan yang berbeda, karena perubahan hakiki hanya bisa datang dari Allah SWT.
Namun demikian, doa harus diimbangi dengan usaha yang maksimal, karena putus asa terhadap rahmat Allah adalah hal yang dilarang.
“Kita tidak boleh bangga dengan ibadah kita hari ini, karena kesalehan yang terlihat belum tentu menjamin kebaikan akhir hidup,” tegasnya.
Setiap individu harus terus berusaha menjadi hamba yang saleh tanpa merasa cukup dengan pencapaian saat ini, serta menjaga hubungan baik dengan orang tua dan lingkungan sebagai bagian penting dari ibadah yang diterima Allah SWT.











