Jeddah, (KATAKUNCI) – Sebanyak 38 )jemaah umrah asal Kalimantan Selatan terlantar di Jeddah, Arab Saudi, setelah pihak Syakira Tour diduga gagal menyediakan tiket kepulangan ke Indonesia.
Hingga Jumat (31/7/2026), para jemaah masih berada di Jeddah tanpa kepastian jadwal penerbangan pulang. Mereka mengaku telah menunggu selama empat hari dengan seluruh kebutuhan hidup ditanggung menggunakan uang pribadi.
Kondisi tersebut memaksa para jemaah mengeluarkan biaya sendiri untuk makan dan penginapan. Situasi semakin memprihatinkan karena sebagian besar dana yang mereka bawa mulai menipis, sementara kepastian kepulangan belum juga diperoleh.
Salah seorang jemaah, Tadil, mengatakan rombongannya merupakan kelompok terakhir yang berhasil diberangkatkan Syakira Tour setelah beberapa kali mengalami penundaan keberangkatan. Namun, saat jadwal kembali ke Indonesia, tiket kepulangan justru tidak tersedia.
“Kami sudah empat hari terlantar di Jeddah tanpa dibiayai pihak travel. Sampai sekarang belum ada kepastian kapan kami bisa pulang,” ujar Tadil kepada awak media.
Ia menjelaskan, rombongan awalnya dijadwalkan berangkat pada 21 Juni 2026. Sekitar sepekan sebelum keberangkatan, jadwal diundur menjadi 27 Juni dengan alasan tiket pesawat mengalami overbook. Penundaan kembali terjadi pada 2 Juli karena visa belum terbit akibat regulasi baru, kemudian kembali bergeser pada 8 Juli.
Pada 10 Juli, para jemaah asal Kalimantan Selatan diberangkatkan ke Jakarta untuk menunggu keberangkatan ke Arab Saudi. Meski visa terbit sehari kemudian, mereka masih harus menunggu ketersediaan kursi pesawat dan akhirnya baru dapat berangkat ke Tanah Suci pada 18 Juli setelah sekitar sepekan tertahan di Jakarta.
Selama berada di Arab Saudi, para jemaah melaksanakan rangkaian ibadah dengan menjalani sekitar lima hari di Makkah dan empat hari di Madinah. Setelah itu mereka dipindahkan ke Jeddah untuk menunggu jadwal penerbangan pulang.
Sejak Senin (27/7/2026), rombongan tak kunjung memperoleh tiket kepulangan. Hingga kini mereka masih bertahan di Jeddah sambil menunggu kepastian dari pihak penyelenggara perjalanan.
Rombongan yang terlantar terdiri dari 10 jemaah asal Tanjung yang mengambil paket umrah 16 hari dan 28 jemaah asal Barabai dengan paket 12 hari. Karena persoalan visa, kedua rombongan akhirnya digabung dalam satu keberangkatan sehingga durasi perjalanan sebagian jemaah menjadi lebih singkat dari paket yang telah dibayarkan.
Selain menunggu kepastian dari pihak travel, para jemaah juga telah berupaya meminta bantuan kepada Kementerian Haji dan Umrah serta KJRI. Namun hingga kini, upaya tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan utama, yakni kepulangan mereka ke Indonesia.
Menurut Tadil, bantuan yang diterima sejauh ini sebatas surat pemanggilan kepada pihak travel serta desakan agar segera memulangkan para jemaah. Sementara kebutuhan mendesak seperti biaya makan dan penginapan masih harus dipenuhi secara mandiri oleh para jemaah.
“Harapan kami sederhana, semoga segera ada bantuan untuk kebutuhan makan dan penginapan serta tiket kepulangan agar kami bisa kembali ke Indonesia. Uang jamaah sudah hampir habis,” katanya.
Berdasarkan informasi yang diterima para jemaah dari agen yang mendampingi rombongan, pihak Syakira Tour disebut mengaku sudah tidak memiliki dana untuk membeli maupun menukarkan tiket kepulangan.
Hingga berita ini ditulis, para jemaah masih berada di Jeddah menunggu solusi dan kepastian agar dapat segera kembali ke Tanah Air.











