ArtikelBALANGANBeritaSEPUTAR KALSEL

Lentera di Balik Lumpur Banjir :  Kisah Guru Rere Menembus Jalan Amblas Demi Pendidikan di Raranum

Avatar
×

Lentera di Balik Lumpur Banjir :  Kisah Guru Rere Menembus Jalan Amblas Demi Pendidikan di Raranum

Sebarkan artikel ini

Foto//Norhadiyati Apriyani, atau Rere guru SDN Raranum hanya melihat sisa sisa kerusakan sekolahnya usai diterjang banjir (Foto:Istimewa)

 

​Balangan – (KATAKUNCI ). – Norhadiyati Apriyani, atau Rere, tidak sedang memegang kapur saat kami menemuinya. Tangan sang peraih penghargaan Guru Berprestasi tingkat Provinsi ini justru lebih sering berlumur tanah belakangan ini. Di SD Kecil Raranum, pendidikan tidak lagi dimulai dengan doa di dalam kelas, melainkan dengan kerja bakti di antara puing jembatan yang runtuh.

​Banjir besar di Kecamatan Tebing Tinggi mungkin sudah surut, namun bagi Rere dan warga RT 03 Desa Langkap, bencana sesungguhnya baru saja dimulai, perjuangan melawan isolasi.

Awal tahun 2026 seharusnya menjadi lembaran baru yang penuh semangat. Namun bagi Rere, kalender di dinding kelasnya justru terendam air kecokelatan. Saat sebagian orang merayakan optimisme tahun yang baru, Rere berdiri di tengah reruntuhan ruang kelas, bertarung dengan waktu dan sisa-sisa banjir yang seolah enggan beranjak.

​Tahun ini, tanggung jawab di pundaknya terasa lebih berat. Ada lima pasang mata baru yang menggantungkan harapan padanya. Tiga murid pertama sudah besekolah di tahun ajaran sebelumnya, dan kini, dua murid lagi nanti menyusul masuk ajaran 2026 .

​Jembatan Kaitan yang dulunya megah kini tinggal rangka yang mencuat malang di tengah sungai. Akses jalan sepanjang 4 kilometer menuju sekolah pun tampak seperti medan perang, amblas di tiga titik krusial.

​Namun, Rere menolak untuk sekadar menunggu anggaran pemerintah yang entah kapan cairnya. Bersama para wali murid dari 15 Kepala Keluarga yang tersisa, ia turun ke jalan. Mereka bukan sedang memperbaiki aspal, melainkan menyusun “jalan darurat” dari sisa-sisa kayu dan bebatuan agar langkah kaki tiga murid aktif mereka tetap bisa mencapai gerbang sekolah.

​”Akses satu-satunya hancur. Kami harus gotong royong memperbaiki seadanya. Kalau kami diam, sekolah ini mati,” ujar Rere sembari menatap jalanan yang masih licin oleh lumpur pekat.

​Masuk ke dalam area sekolah, pemandangan tak kalah memprihatinkan. Lantai sekolah yang biasanya bersih, kini menyisakan kerak lumpur yang keras. Alat peraga edukasi yang ia susun dengan teliti kini hancur terendam air.

Bau lumpur yang menyengat masih tertinggal di lorong sekolah, namun Rere tidak punya waktu untuk sekadar menutup hidung. Sepatu boot-nya tenggelam dalam sisa genangan air saat ia melangkah masuk ke ruang kelas yang kini lebih mirip gudang barang rongsokan. Fokusnya terbelah tiga, antara dinding yang kotor, buku yang hancur, dua pasang mata kecil yang menatap cemas dari balik pintu.

​Bagi Rere, membersihkan sekolah bukan sekadar menyapu lantai. Ini adalah upaya merebut kembali ruang aman bagi anak-anak untuk bermimpi. Dengan sapu lidi di tangan kanan dan selang air di tangan kiri, ia berjibaku merontokkan kerak lumpur yang menempel di meja dan kursi kayu.

​”Setiap inci lantai yang bersih adalah langkah lebih dekat bagi mereka untuk bisa duduk belajar kembali,” gumamnya sambil menyeka keringat yang bercampur debu.

​Di sudut lain, tumpukan buku pelajaran menjadi pemandangan yang menyayat hati. Logistik pendidikan ini adalah nyawa dari kegiatan belajar-mengajar. Rere terlihat dengan telaten memilah satu per satu lembaran yang masih bisa diselamatkan. Beberapa buku yang hanya basah di bagian pinggir, ia hamparkan di atas bangku yang sudah kering, berharap angin segera membawa pergi lembap yang merusak. Baginya, menyelamatkan satu buku berarti menyelamatkan satu jendela dunia bagi muridnya.

​Namun, beban terberat Rere bukanlah pada fisik bangunan atau tumpukan buku, melainkan pada aspek mental. Dua murid baru baru saja terdaftar minggu lalu. Mereka datang bukan disambut upacara bendera yang rapi, melainkan pemandangan sekolah yang luluh lantak.

​Banyak orang mungkin bertanya, Mengapa bertaruh nyawa demi tiga orang murid? Bagi Rere, ini bukan soal kuantitas, tapi soal hak dasar yang tak boleh hanyut dibawa arus. Jika ia berhenti, maka pupus sudah harapan anak-anak Raranum untuk melihat dunia di luar desa mereka yang terisolasi.

​”Bantu kami, ada harapan anak – anak disini untuk bersekolah kembali,” ucapnya. Harapannya sederhana namun menusuk, ia ingin pemerintah segera mendistribusikan alat belajar yang baru dan mengirimkan alat berat untuk memperbaiki akses yang amblas.

​Rere adalah bukti bahwa predikat “Guru Terbaik” tidak diuji di atas panggung seremoni, melainkan di jalanan amblas dan ruang kelas yang beraroma lumpur. Di Raranum, ia bukan hanya mengajar membaca, ia sedang mengajarkan cara bertahan hidup di tengah pengabaian.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *