ArtikelBALANGANBerita

Bukan Sekadar Nama: Rahasia di Balik Lampion dan Akulturasi Cina-Banjar di Lampihong

Avatar
×

Bukan Sekadar Nama: Rahasia di Balik Lampion dan Akulturasi Cina-Banjar di Lampihong

Sebarkan artikel ini
Foto Tugu Gula Habang Kecamatan Lampihong. KATKUNCI/Aswan Mnor

Balangan (KATAKUNCI) – Jika hari ini Lampihong dikenal sebagai salah satu kecamatan tenang di Kabupaten Balangan, maka mesin waktu sejarah akan membawa kita pada pemandangan yang jauh berbeda seabad silam.

Di sana, di antara aroma getah karet dan riak Sungai Batang Balangan pernah berdiri sebuah pusat kosmopolitan yang mempertemukan berbagai bangsa.

​Lampihong bukan sekadar titik di peta. Secara geografis, wilayah ini adalah “segitiga emas” pada masa kolonial. Keberadaan Sungai Batang Balangan menjadikannya gerbang utama menuju Amuntai, sementara jalur daratnya menjadi urat nadi yang menghubungkan Barabai dengan Tanjung.

​Kondisi strategis inilah yang mengundang para saudagar dari berbagai penjuru. Wilayah yang kini mencakup Desa Simpang Tiga, Lampihong Kiri, Lampihong Kanan, hingga Hilir Pasar, dulunya adalah permukiman elit para juragan karet.

Tak hanya pribumi, komunitas Belanda, India, hingga etnis Tionghoa hidup berdampingan, menciptakan harmoni ekonomi yang luar biasa.

​Asal-usul nama Lampihong sendiri menyimpan cerita unik tentang akulturasi. Dari leterasi Disdikbud Balangan, nama tersebut diyakini berasal dari dialek Tionghoa, Lam-pi-hong. Ada pula versi yang menyebutnya berasal dari kata “Lampion”.
​”Secara budaya, keberadaan lampion ini tidak terpisahkan dari warga etnis Tionghoa yang bermukim di sana,”

Lampion atau denglong bukan sekadar hiasan. Cahaya merahnya melambangkan doa akan kemakmuran dan persatuan, sebuah harapan yang tampaknya benar-benar terwujud dalam kejayaan ekonomi Lampihong di masa lalu. Bahkan, jejak pertokoan etnis Tionghoa ini disebut masih eksis hingga dekade 1960-an.

​Bukti paling otentik dari pembauran budaya ini tertinggal dalam kesenian Basisingaan atau Banaga-nagaan. Jika di tanah leluhurnya etnis Tionghoa memainkan Barongsai, di Lampihong, napas kesenian itu menyatu dengan selera lokal.

​Permainan ornamen singa dan naga yang diiringi musik ini adalah simbol penghormatan terhadap binatang sakral dalam tradisi Tionghoa, namun dibawakan dengan cita rasa masyarakat Balangan. Ini adalah bukti bahwa sejak dulu, masyarakat Lampihong adalah masyarakat yang terbuka dan inklusif.

​Bagi mereka yang ingin menyusuri sisa-sisa masa keemasan tersebut, langkah kaki bisa diarahkan ke hilir sungai, tak jauh dari Jembatan Besi peninggalan Belanda. Di sana, masih terdapat sisa-sisa boom atau dermaga tempat kapal-kapal besar bersandar mengangkut komoditas karet.

​Meski zaman telah berganti dan kapal-kapal besar tak lagi merapat, aroma sejarah di Lampihong tetap kuat. Ia tetap menjadi pengingat bahwa di tepian Batang Balangan, cahaya “Lampion” pernah menerangi salah satu pusat peradaban ekonomi terpenting di Kalimantan Selatan.

(Beberapa Sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *