ArtikelBALANGANBerita

Batumandi: Antara Legenda “Batu yang Mandi” dan Denyut Nadi Ekonomi Balangan

Avatar
×

Batumandi: Antara Legenda “Batu yang Mandi” dan Denyut Nadi Ekonomi Balangan

Sebarkan artikel ini
Tugu Pampakin Tiwadak Batumandi. KATAKUNCI/ HerbaLariz

​Balangan (KATAKUNCI) – Jika Anda melintasi jalan lintas provinsi menuju arah Kalimantan Timur, Anda akan melewati sebuah wilayah yang tenang namun penuh cerita di Kabupaten Balangan.

Namanya Batumandi, bukan sekadar titik koordinat di peta, kecamatan ini adalah paduan harmonis antara legenda masa lalu yang magis dan perkembangan ekonomi pedesaan yang kian mandiri.

​Nama Batumandi bukanlah sebuah kebetulan. Berdasarkan penuturan para tetua dan pamong budaya, identitas wilayah ini lahir dari fenomena unik di sebuah tempat bernama Tabur. Di sana, terdapat formasi batu besar di tengah sungai yang jika dilihat dari kejauhan menyerupai sosok manusia yang sedang membersihkan diri.

​Suara kecipak air yang memecah kesunyian malam di aliran sungai tenang tersebut seringkali membuat warga tertegun. Meski tak ada sosok manusia yang terlihat suara itu terus ada, seolah alam sedang melakukan ritual mandinya sendiri.

Keajaiban kecil inilah yang kemudian abadi menjadi nama sebuah kecamatan besar.

​Dahulu, Batumandi adalah sebuah “raksasa” administratif. Sebagai desa induk, wilayahnya membentang luas. Namun, pertumbuhan penduduk yang pesat menuntut pelayanan publik yang lebih dekat. Kini, Batumandi telah bertransformasi menjadi kecamatan otonom yang menaungi 18 desa (termasuk hasil pemekaran).

​Transformasi ini tidak hanya terjadi di atas kertas. Batumandi kini menjadi salah satu pusat kegiatan pemerintahan dan sosial yang krusial bagi masyarakat di sekitarnya.

​Sejauh mata memandang, hamparan hijau lahan pertanian mendominasi pemandangan di Batumandi. Namun, kekayaan kecamatan ini tidak berhenti di situ, Pusat Agrobisnis dimana Batumandi dikenal sebagai salah satu lumbung pangan dan perkebunan di Balangan, mulai dari padi hingga karet.

​Belum lagi Kuliner Khas Batumandi, Bagi para pelancong, Batumandi adalah pemberhentian favorit untuk menikmati kudapan tradisional. Gula habang (gula merah) hasil olahan perajin lokal seringkali menjadi buah tangan yang dicari.

​Tak Kalah Kearifan Kerajinan,Batumandi di beberapa sudut desa, tangan-tangan terampil masyarakat masih melestarikan anyaman dan kerajinan tangan yang menjadi simbol ketelatenan urang Banjar.

​Meski gedung-gedung pemerintahan dan fasilitas umum kian modern, masyarakat Batumandi tidak melupakan akarnya. Cerita tentang “batu yang mandi” tetap diceritakan kepada generasi muda sebagai pengingat bahwa identitas sebuah tempat dibangun dari rasa hormat terhadap alam.

​”Batumandi bukan sekadar nama, tetapi sebuah kenangan yang terus hidup,”

​Kecamatan ini membuktikan bahwa sebuah wilayah bisa bergerak maju menuju masa depan tanpa harus menanggalkan baju sejarahnya. Di Batumandi, setiap kecipak air sungai dan setiap batu yang diam tetap menyimpan bisikan cerita dari masa lalu yang takkan pernah pudar.

(Sejumlah Sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *