foto/ H Fahmi wahid (istimewa)
Balangan. (KATAKUNCI). – Pagi itu, 10 Januari 2026. Sebuah kabar duka menyelinap di sela-sela rimbunnya hutan Meratus dan mengalir deras di sepanjang sungai Banua yakni H. Fahmi Wahid, sosok penjaga gawang kesenian dan sastra Kalimantan Selatan, telah berpulang di usia 61 tahun.
Kepergiannya bukan sekadar kehilangan bagi keluarga, melainkan sebuah “lubang besar” dalam peta literasi Banua. Beliau meninggalkan kita tepat di hari yang seharusnya menjadi penanda semangat baru di awal tahun, namun takdir menuliskan titik terakhir tepat di hari ini.
Lahir di Barabai pada 3 Agustus 1964, Fahmi Wahid tumbuh dengan napas yang penuh dengan aroma tanah kelahiran. Meski berkarier sebagai pejabat di lingkungan Kementerian Agama, jiwanya adalah milik kata-kata. Ia bukan tipe penyair yang hanya duduk di menara gading. Melalui antologinya, Suara Orang Pedalaman (2016) dan Tandik Meratus (2019), ia membawa jeritan dan doa masyarakat Dayak Meratus ke panggung nasional.
Fahmi adalah jembatan. Ia menghubungkan birokrasi yang kaku dengan seni yang cair. Sebagai Ketua Dewan Kesenian Balangan periode 2023–2027, ia dikenal sebagai sosok yang mengayomi. “Bagi beliau, kesenian bukan hanya pertunjukan, tapi identitas yang harus dirawat seperti nyawa sendiri,” kenang salah seorang rekan senimannya.
Dedikasinya terhadap bahasa ibu tak perlu diragukan. Karya Rista Kabak Burung di Tanah Banyu (2021) menjadi bukti betapa ia mencintai dialek dan tradisi Banjar. Tak heran jika pada tahun 2011, Gubernur Kalimantan Selatan menganugerahinya Hadiah Seni Bidang Sastra.
Bagi Fahmi, menulis puisi dalam bahasa Banjar adalah cara melawan lupa. Ia ingin generasi muda Balangan bangga dengan Bumi Sanggam, bukan justru merasa asing di tanah sendiri. Ia sering terlihat di acara Aruh Sastra, duduk bersila bersama penyair muda, memberi semangat tanpa pernah merasa paling senior.
Dalam salah satu bukunya, Perjalanan Debu (2018), Fahmi seolah sudah menyadari bahwa manusia hanyalah peziarah. Namun, lewat karya-karyanya, ia telah menolak untuk sekadar menjadi debu yang hilang tertiup angin.
Hari ini, Balangan berduka. Sang Ketua Dewan Kesenian telah menyelesaikan tugasnya. Ia tidak lagi menulis puisi tentang Meratus, ia kini telah menjadi bagian dari keabadian Meratus itu sendiri. Selamat jalan, H. Fahmi Wahid. Doa-doa kami mengiringi langkahmu menuju keheningan yang paling puitis.











