Berita

Kebakaran Rumah di HST Kembali Terjadi, Jalur Komunikasi Utama Informasi Kebakaran Masih Belum Sinkron

Avatar
×

Kebakaran Rumah di HST Kembali Terjadi, Jalur Komunikasi Utama Informasi Kebakaran Masih Belum Sinkron

Sebarkan artikel ini

Barabai (KATAKUNCI) – Kebakaran kembali melanda permukiman di wilayah Hulu Sungai Tengah (HST), kali ini terjadi di Desa Banua Hanyar (Mambulung), Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kamis (16/7/2026).

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.00 Wita di RT 9 RW 3, Desa Banua Hanyar, saat api menghanguskan sebuah rumah berbahan kayu milik warga.

Berdasarkan data di lapangan, rumah yang terdampak merupakan milik M. Fandi. Kebakaran berdampak pada satu kepala keluarga yang terdiri atas lima jiwa, dengan tingkat kerusakan diperkirakan mencapai sekitar 20 persen.

Beruntung tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut. Hingga proses penanganan selesai, seluruh penghuni dilaporkan berhasil menyelamatkan diri.

Penyebab kebakaran masih belum diketahui dan masih menunggu hasil pendataan serta penyelidikan lebih lanjut dari pihak berwenang.

Sejumlah unsur bergerak cepat menuju lokasi untuk melakukan penanganan awal dan pendataan. Mereka terdiri dari TAGANA HST, Satpol PP dan Damkar HST, Balakar 654 Murakata, Polsek, Koramil, Pemerintah Desa, pihak Kecamatan, BPBD HST, PLN, serta masyarakat sekitar.

Kolaborasi lintas instansi dan relawan dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat pengendalian situasi sehingga kebakaran tidak meluas ke bangunan lain yang berada di sekitar lokasi.

Meski demikian, proses penanganan sempat diwarnai kendala miss komunikasi. Informasi kebakaran tidak langsung disampaikan melalui frekuensi radio 14.654.0 milik Balakar Murakata HST yang selama ini menjadi jalur utama koordinasi relawan pemadam.

Akibat keterlambatan informasi tersebut, sebagian petugas sempat mengalami kebingungan karena tidak memperoleh laporan awal melalui frekuensi yang biasa digunakan saat terjadi kebakaran.

Muhammad atau yang akrab disapa Julak mengingatkan pentingnya disiplin dalam menyampaikan laporan melalui frekuensi radio agar proses pengerahan personel berlangsung lebih cepat dan terkoordinasi.

“Hendaknya setiap kejadian kebakaran, baik kecil maupun besar, segera dilaporkan melalui frekuensi 14.654.0 agar relawan dapat bergerak dengan cepat dan tidak terjadi penumpukan personel di lokasi,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, perkembangan kondisi api sebaiknya terus diinformasikan melalui frekuensi yang sama. Dengan demikian, relawan yang masih dalam perjalanan dapat mengetahui apakah api masih berkobar atau sudah berhasil dikuasai sehingga mobilisasi personel menjadi lebih efektif.

Sementara itu, penanganan pasca kebakaran difokuskan pada proses pendataan terhadap bangunan dan warga terdampak. Berdasarkan laporan sementara, administrasi kependudukan korban dinyatakan aman dan tidak mengalami kendala.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa selain kecepatan penanganan di lapangan, sistem komunikasi yang baik antar petugas dan relawan memiliki peran penting dalam setiap kejadian kebakaran. Pelaporan yang cepat, akurat, dan berjenjang diharapkan mampu meningkatkan efektivitas respons darurat serta meminimalkan potensi kerugian yang lebih besar.

Penulis: Muhammad RamliEditor: Wahyudi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *