Paringin (KATAKUNCI) – Beberapa siswa dari SD Negeri Tundi terpaksa memboyong perangkat digital mereka dan duduk berjejer di tribun penonton lapangan bola setempat. Bukan untuk menyaksikan pertandingan, melainkan demi mendapatkan sinyal internet agar bisa mengerjakan soal TKA (Tes Kompetensi Akademik), pada Rabu (22/4/2026).
Kondisi memprihatinkan ini dipicu oleh buruknya infrastruktur telekomunikasi di area sekolah. Meskipun sistem pendidikan telah beralih ke basis digital, kestabilan jaringan internet di wilayah SDN Tundi masih menjadi hal yang menakutkan bagi pihak sekolah maupun siswa setiap kali musim ujian tiba.
Sejak pukul 07.30 WITA, para siswa sudah berkumpul di area tribun. Lokasi ini dipilih karena letaknya yang lebih terbuka dan tinggi dibandingkan bangunan sekolah, sehingga dianggap sebagai terbaik untuk menangkap sinyal 4G yang kerap timbul tenggelam.
Guru SD Negeri Tundi yang juga merupakan Proktor saat ujian berlangsung, Erma Safitri, dalam wawancaranya kepada wartawan katakunci.com menyampaikan harapannya kepada Pemerintah Daerah atau instansi terkait perihal masalah yang dihadapi pihak sekolah saat ini.
“Alasan kami memilih tribun lapangan sepakbola untuk pelaksanaan TKA ini, karena kalau di ruangan kelas terkendala sinyal yang kurang lancar dan tidak stabil, harapannya pihak terkait dapat memfasilitasi jaringan internet yang kurang stabil ini, agar ke depan siswa di sekolah dapat mengerjakan TKA di dalam ruang kelas seperti siswa-siswi di sekolah lainnya”. Harapnya.
Peristiwa ini kembali mencuatkan isu digital divide atau ketimpangan digital yang masih nyata di daerah-daerah terpencil. Meskipun kurikulum menuntut siswa untuk cakap teknologi, tanpa dukungan infrastruktur yang mumpuni, semangat belajar tersebut seringkali terganjal kendala teknis.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa semangat belajar anak bangsa tidak surut meski diterpa keterbatasan. Ujian hari ini mungkin berakhir dengan lancar secara teknis, namun masalah utama belum selesai. Selama jaringan internet di SDN Tundi belum stabil, tribun lapangan bola akan terus menjadi ‘ruang kelas darurat’ bagi mereka yang sedang bertaruh nasib demi pendidikan. (arl/why)











