BeritaEKONOMIHULU SUNGAI TENGAH

Harga Pertamax Naik Menjadi Rp17.000, Masyarakat Mulai Beralih ke Pertalite

Avatar
×

Harga Pertamax Naik Menjadi Rp17.000, Masyarakat Mulai Beralih ke Pertalite

Sebarkan artikel ini
SPBU Mandingin terlihat lengang dikarenakan stok pertalite masih dalam keadaan kosong. KATAKUNCI / Muhammad Ramli

Barabai (KATAKUNCI) – Harga BBM jenis Pertamax resmi naik menjadi Rp17.000 per liter, memicu peralihan konsumsi masyarakat ke bahan bakar yang lebih terjangkau.

Penyesuaian tarif tersebut berlaku efektif mulai pukul 00.01 Wita, Rabu (10/6/2026). Kenaikan sebesar Rp4.100 dari harga sebelumnya ini langsung diterapkan di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Pantauan di titik-titik strategis, seperti SPBU Mandingin dan SPBU Kasarangan, menunjukkan perubahan harga tersebut sudah tertera jelas pada layar informasi harga bagi konsumen.

Kebijakan baru ini memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat terkait beban biaya operasional kendaraan. Banyak pihak memprediksi akan terjadi pergeseran permintaan dari produk nonsubsidi menuju bahan bakar dengan harga lebih ekonomis.

Salah satu pengelola SPBU di HST, Purwadi, memaparkan volume pasokan Pertamax yang biasa diterima berkisar antara 10 hingga 13 tangki setiap bulannya.

“Untuk Pertamax, pengiriman biasanya antara 10 sampai 13 tangki per bulan. Satu tangki berisi sekitar 8.000 liter,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Berbeda dengan Pertamax, pasokan bahan bakar jenis Pertalite justru mengalami penambahan kuota pada bulan Juni ini guna mengantisipasi lonjakan permintaan.

Di SPBU Mandingin misalnya, terdapat tambahan pengiriman sebanyak lima tangki sehingga total rencana distribusi selama bulan ini mencapai 35 tangki.

“Di SPBU Mandingin bulan Juni ini ada penambahan lima tangki. Jadi total rencana pengiriman Pertalite pada bulan ini sebanyak 35 tangki dengan kapasitas masing-masing 8.000 liter,” katanya.

Dampak kenaikan harga sudah mulai terlihat nyata sejak pagi hari. Berdasarkan pengamatan di lapangan, sejumlah konsumen yang awalnya berniat mengisi Pertamax akhirnya memutuskan beralih ke jenis lain.

Akibatnya, antrean kendaraan di jalur pengisian Pertalite terlihat jauh lebih panjang dibandingkan hari-hari biasa. Fenomena ini bahkan menyebabkan stok di beberapa titik sempat terkuras habis.

Sementara itu, kondisi di SPBU Kasarangan terbilang masih stabil. Pengawas di lokasi tersebut, Andre, memastikan antrean dan ketersediaan bahan bakar berjalan normal seperti biasanya.

“Untuk sementara tidak ada berimbas ke Pertalite, di SPBU antrian Pertalite seperti hari-hari biasanya saja,” ungkap Andre.

Salah seorang warga Barabai, Emilda, menilai lonjakan harga tersebut cukup memberatkan bagi pengguna kendaraan yang selama ini mengandalkan BBM nonsubsidi.

Ia berharap pemerintah dan pihak terkait dapat menjamin ketersediaan stok Pertalite agar tidak terjadi kelangkaan yang justru akan mengganggu aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat secara luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *