foto//“Ban Ganal” Batu Piring(istimewa)
Balangan. – (KATAKUNCI). – Bagi pengendara yang sering melintasi Jalan A. Yani KM 1, Kelurahan Batu Piring, Kabupaten Balangan, tumpukan ban raksasa di tengah jalan bukan sekadar karet bekas. Selama dua dekade, benda yang dikenal dengan sebutan “Ban Ganal” (Ban Besar) ini berdiri tegak sebagai saksi bisu antara hidup dan mati di salah satu tikungan paling berbahaya di Kalimantan Selatan.
Kini, Ban Ganal mungkin telah tiada, digantikan oleh pembatas jalan modern. Namun, kisahnya sebagai “pahlawan” yang memangkas angka kecelakaan fatal tetap hidup di ingatan warga.
Lahir dari urgensi keselamatan, rekayasa jalan unik ini dimulai pada 31 Oktober 1999. Awalnya, warga menyebutnya “Ban Tiga” karena ada tiga buah ban truk HD (Heavy Duty) yang ditumpuk menjulang.
“Seingat saya, dulu ada tiga. Tapi karena sering ditabrak, satu jatuh dan disingkirkan, hingga tersisa dua buah saja,” kenang Syukur, salah satu tokoh masyarakat Balangan yang juga ASN di lingkup Pemkab Balangan. Meski tampak sederhana, peletakan ban ini adalah keputusan krusial untuk membagi arus di pertigaan tajam yang menghubungkan jalur Nasional menuju Kalimantan Timur.
Mengapa tikungan ini begitu mematikan? Secara logika teknis, tikungan Batu Piring adalah “jebakan batman” bagi pengemudi. Setelah memacu kendaraan di jalur lurus sepanjang tiga kilometer dari arah Gunung Gambar atau Samsat Balangan, pengemudi cenderung terlena dengan kecepatan tinggi. Saat tiba di Ban Ganal, mereka sering terkejut oleh sudut tikungan yang mendadak tajam.
Namun, di balik penjelasan ilmiah, terselip kisah-kisah di luar nalar yang menyelimuti areal tersebut. Sebelum tahun 1999, kecelakaan maut hampir terjadi setiap bulan, terutama pada malam hari atau tengah hari Jumat.
”Banyak pengendara mengaku melihat orang menyeberang beriringan atau berpapasan dengan ambulans gaib. Hal-hal mistis itulah yang sering membuat pengemudi kehilangan kendali,” ungkap Syukur menceritakan kesaksian para korban terdahulu.
Salah satu tragedi yang paling memilukan adalah kecelakaan minibus keluarga saat waktu salat Jumat, yang merenggut nyawa seorang anak kecil. Kejadian itulah, disusul kecelakaan truk tangki yang menghantam rumah warga, yang akhirnya membulatkan tekad otoritas setempat untuk memasang Ban Ganal sebagai pembatas jalan darurat.
Setelah 20 tahun menjadi “polisi tidur” raksasa yang menyelamatkan banyak nyawa, masa tugas Ban Ganal berakhir pada 23 Oktober 2019. Dinas Perhubungan bersama PUPR Balangan resmi menyingkirkan ban tersebut untuk diganti dengan pembatas jalan resmi dari Dinas Terkait.
Meski kini tampilannya lebih modern dan rapi, masyarakat Balangan tidak akan lupa bahwa selama dua puluh tahun, tumpukan ban bekas itulah yang menjadi benteng pertahanan terakhir bagi para pengendara yang melintas di Batu Piring.
Ban Ganal kini telah menjadi kenangan, namun ia meninggalkan pelajaran berharga tentang pentingnya konsentrasi dan bagaimana sebuah inovasi sederhana bisa menyelamatkan ratusan nyawa di aspal jalanan.*











