BeritaHULU SUNGAI TENGAH

Pemkab HST hadiri peringatan haul Datu Usman di Banua Kepayang

Avatar
×

Pemkab HST hadiri peringatan haul Datu Usman di Banua Kepayang

Sebarkan artikel ini
Bupati HST Samsul Rizal (kanan) memberikan sambutan ketika menghadiri acara Haul Datu Usman atau Kubah Dingin di Desa Banua Kepayang, Kecamatab Labuan Amas Selatan, HST, Minggu (12/4/2026). KATAKUNCI/Screenshot YouTube TV Majelis RGA

Barabai (KATAKUNCI) – Bupati dan Wakil Bupati Hulu Sungai Tengah (HST) menghadiri peringatan haulan Datu Usman atau yang dikenal dengan sebutan Kubah Dingin di Desa Banua Kepayang, Kecamatan Labuan Amas Selatan, sebagai wujud keharmonisan antara pemimpin daerah dan tokoh agama.

Kegiatan berlangsung pada Minggu (12/4/2026) sore. Turut hadir pula Pimpinan Majelis Raudhatul Ghanna Annabiwiyah Kandangan sekaligus Ketua MUI Provinsi Kalimantan Selatan, TGH Ahmad Syairazi, para Habaib, guru agama, tokoh masyarakat, serta ribuan jamaah yang memenuhi lokasi acara.

Dalam pengantar kata, TGH Ahmad Syairazi menekankan bahwa kemajuan suatu wilayah tidak bisa dicapai oleh satu pihak saja.

Menurutnya, ulama dan umara memiliki peran yang saling melengkapi dan tidak terpisahkan, ulama dengan umara ini tidak bisa dipisah.

Kalau umara saja siapa yang membaca doa selamat atau berkhutbah dan sebaliknya, kalau hanya ulama yang mengurus pemerintahan, maka urusan administrasi akan kosong. Masing-masing Allah Ta’ala memberikan porsinya tersendiri untuk mencapai rida-Nya.

Lebih jauh, ia mengutip pola kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dikenal memakmurkan negerinya melalui penyatuan tiga elemen: umara atau pejabat, ulama, serta agniya atau orang kaya.

Ketiga kelompok ini harus bersinergi agar wilayah dapat menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur atau negeri yang baik dan pengampun.

TGH Ahmad Syairazi juga menjelaskan empat tiang penyangga kehidupan bernegara menurut ajaran Islam. Pertama adalah ‘adlul umara atau keadilan pemimpin, kedua ‘ilmul ulama atau ilmu yang disampaikan tokoh agama untuk membentuk akhlak masyarakat.

Kemudian ketiga sakha-ul agniya atau kedermawanan orang kaya melalui zakat dan infak, serta keempat doa-ul fuqara atau doa orang miskin yang dinilai sangat mustajab.

Ia mengingatkan agar kelompok yang mampu tidak hanya mengandalkan bantuan pemerintah yang terbatas, melainkan turut aktif menolong sesama.

Sementara itu, Bupati HST Samsul Rizal dalam sambutannya menyatakan komitmennya untuk menjalankan pemerintahan dengan adil sesuai pesan yang disampaikan para ulama.

Meskipun terpilih dengan perolehan suara yang tipis, ia menegaskan akan bekerja sebaik mungkin demi meringankan beban masyarakat di seluruh wilayah HST.

“Saya sebagai umara harus berkhidmat atau mengabdi kepada ulama. Pemerintahan tidak akan berjalan baik tanpa dukungan dan bimbingan dari tokoh agama,” ungkap Samsul Rizal.

Ia juga menegaskan rasa cintanya terhadap daerah tersebut, mengingat istri dan anak-anaknya merupakan penduduk asli HST, meskipun dirinya sendiri merupakan juriyat Kandangan.

Bupati juga menjamin bahwa pemerintah daerah terbuka untuk mendukung kegiatan serta fasilitas majelis agama yang bernilai positif. Kebijakan-kebijakan ke depan akan diarahkan agar dapat bersinergi dengan nilai-nilai keagamaan demi kemaslahatan bersama.

Sebagai informasi tambahan, tokoh yang diperingati, Datu Usman bin Salman Al Arsyadi, memiliki silsilah keturunan yang mulia hingga sampai kepada ulama besar Kalimantan Selatan, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Silsilahnya tercatat sebagai Haji Usman bin Haji Salman bin Abdul Karim bin Qadhi Muhammad bin Qadhi Haji Ahmad Balimau bin Haji Muhammad Asad, dengan garis ibu dari Syarifah binti Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *