BALANGAN (KATAKUNCI) – Menjawab tantangan global dan dinamika dunia pendidikan modern yang menuntut kompetensi nyata, Program Studi (Prodi) S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sapta Mandiri (UNIVSM) Balangan mengambil langkah progresif dengan resmi beralih ke Kurikulum Berbasis Outcome atau Outcome-Based Education (OBE). Langkah transformasi akademik ini dirancang untuk merevolusi metode pembelajaran demi melahirkan lulusan calon pendidik yang adaptif, siap kerja, dan memiliki daya saing tinggi.
Peralihan ke kurikulum OBE ini menandai pergeseran fokus pengajaran di lingkungan PGSM UNIVSM. Jika sebelumnya sistem pembelajaran cenderung menitikberatkan pada pemenuhan materi dan input kognitif (content-based), kini orientasi utama diarahkan pada hasil capaian pembelajaran (output dan outcome), yaitu apa yang benar-benar bisa diimplementasikan oleh mahasiswa setelah menyelesaikan masa studinya.
Proses transisi ini melibatkan rekonstruksi mendalam terhadap rancangan pembelajaran, metode asesmen, hingga keterlibatan mahasiswa di dalam kelas. Melalui skema OBE, mahasiswa PGSD UNIVSM tidak hanya dituntut untuk menghafal teori-teori pedagogik, melainkan dilatih secara intensif untuk menguasai keterampilan praktis (seperti metode mengajar inovatif, pemanfaatan teknologi pendidikan, manajemen kelas, hingga penyusunan riset tindakan kelas yang aplikatif).
Pihak manajemen program studi PGSD UNIVSM menjelaskan bahwa kurikulum baru ini diselaraskan dengan standar nasional tinggi dan kebutuhan riil sekolah-sekolah dasar, khususnya di wilayah Kabupaten Balangan dan Kalimantan Selatan. Penilaian terhadap mahasiswa tidak lagi hanya bertumpu pada ujian tertulis baku, melainkan melalui evaluasi portofolio kerja, simulasi mengajar (microteaching), serta proyek pemecahan masalah nyata di bidang pendidikan dasar.
“Penerapan Kurikulum Berbasis Outcome (OBE) di PGSD Universitas Sapta Mandiri merupakan komitmen kami untuk meruntuhkan batasan antara teori perkuliahan dengan realitas di lapangan. Kita ingin mencetak guru sekolah dasar yang tidak hanya memegang gelar sarjana, tetapi memiliki kompetensi utuh yang adaptif terhadap kurikulum sekolah modern dan mampu menjadi penggerak literasi di daerah,” ungkap perwakilan jajaran akademik UNIVSM. (Arl)











