Barabai (KATAKUNCI) – Upaya percepatan penurunan angka stunting terus diperkuat melalui sinergi lintas sektor dalam kegiatan Rembuk Stunting di Desa Banua Binjai, Kecamatan Barabai.
Kegiatan yang digelar di Gedung Posyandu Desa Banua Binjai pada Rabu (29/7/2026) itu dihadiri perangkat desa, kader kesehatan, petugas Puskesmas Barabai, perwakilan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Barabai, serta berbagai unsur masyarakat untuk menyamakan langkah dalam pencegahan stunting sejak dini.
Penyuluh Agama KUA Kecamatan Barabai, Rizka Khairina, yang mewakili Kepala KUA menyampaikan bahwa stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi dipengaruhi banyak faktor sehingga membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah masih adanya pernikahan pada usia muda.
Ia menjelaskan, meski Undang-Undang memperbolehkan pernikahan mulai usia 19 tahun, KUA tetap mendorong pasangan menikah pada usia yang lebih matang, yakni di atas 21 tahun, agar kondisi fisik calon ibu benar-benar siap menjalani kehamilan dan melahirkan anak yang sehat.
“Kami terus mengimbau agar masyarakat menghindari pernikahan dini karena kondisi fisik calon ibu yang belum matang dapat meningkatkan risiko lahirnya anak yang mengalami stunting,” ujar Rizka.
Berdasarkan data KUA Kecamatan Barabai, selama Januari hingga Juni 2026 tercatat enam pernikahan di Desa Banua Binjai. Dari jumlah tersebut terdapat dua calon pengantin perempuan yang masih berusia di bawah 21 tahun sehingga memerlukan perhatian dan pendampingan lebih lanjut.
Untuk menekan risiko tersebut, KUA mengarahkan setiap calon pengantin mengikuti pemeriksaan kesehatan di Puskesmas dan melanjutkan skrining kesiapan menikah melalui Balai KB dengan memanfaatkan aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil).
Langkah ini dilakukan agar kondisi kesehatan calon pasangan dapat dipantau sebelum memasuki masa kehamilan.
Rizka juga menyoroti pernikahan siri, terutama yang dilakukan di bawah umur, sebagai tantangan tersendiri.
Pernikahan yang tidak tercatat membuat proses pemantauan kesehatan calon ibu maupun anak menjadi lebih sulit sehingga berpotensi menghambat upaya pencegahan stunting.
Selain pendampingan calon pengantin, KUA secara rutin memberikan bimbingan perkawinan kepada pasangan yang akan menikah serta penyuluhan bagi remaja usia sekolah.
Materi yang disampaikan mencakup pentingnya membangun keluarga yang bertanggung jawab, memahami kesehatan reproduksi, hingga mendorong generasi muda merencanakan masa depan sebelum memutuskan menikah.
Sementara itu, Petugas Gizi Puskesmas Barabai, Azkia, menjelaskan bahwa pencegahan stunting harus dimulai sejak masa remaja, khususnya pada remaja putri yang rentan mengalami anemia. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah maupun prematur yang menjadi salah satu faktor penyebab stunting.
Menurutnya, perhatian utama harus difokuskan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode tersebut merupakan masa emas pertumbuhan sehingga pemenuhan gizi, pemantauan kesehatan, dan perkembangan anak harus dilakukan secara optimal.
“Stunting berbeda dengan berat badan kurang. Anak bisa terlihat sehat dan berat badannya normal, tetapi tetap dikategorikan stunting apabila tinggi badannya tidak sesuai dengan usianya,” jelas Azkia.
Ia menambahkan, Puskesmas Barabai terus menjalankan berbagai program pencegahan, mulai dari pemberian makanan tambahan (PMT) lokal bagi balita bergizi kurang dan ibu hamil.
Kemudian pemberian biskuit tambahan, susu PKMK sesuai indikasi medis, pemeriksaan hemoglobin (HB), skrining tuberkulosis (TB), hingga edukasi mengenai ASI eksklusif dan pola makan bergizi seimbang. Khusus di Desa Banua Binjai, saat ini terdapat empat balita dan dua ibu hamil yang menjadi sasaran program PMT.
Melalui rembuk stunting tersebut, seluruh peserta sepakat bahwa pencegahan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi memerlukan peran aktif keluarga, kader, pemerintah desa dan masyarakat.
Kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat, memperkuat pemantauan tumbuh kembang anak, serta menekan angka stunting di Desa Banua Binjai secara berkelanjutan.











