BeritaHULU SUNGAI TENGAH

Agrowisata Petik Melon Bumdes Partala Jadi Daya Tarik Baru di Desa Jatuh

Avatar
×

Agrowisata Petik Melon Bumdes Partala Jadi Daya Tarik Baru di Desa Jatuh

Sebarkan artikel ini
Wisata petik buah Melon di Desa Jatuh Kecamatan Pandawan, HST. KATAKUNCI / Muhammad Ramli

Barabai (KATAKUNCI) – Agrowisata petik melon yang dikelola Bumdes Partala Desa Jatuh menjadi inovasi baru untuk meningkatkan nilai jual hasil panen sekaligus menarik kunjungan masyarakat.

Peresmian agrowisata tersebut dilaksanakan pada Rabu (1/7/2026) di Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan. Pengunjung dapat memetik langsung buah melon dari kebun dengan harga Rp12.000 per kilogram. Agrowisata ini dijadwalkan dibuka hingga Jumat (3/7/2026).

Kebun melon seluas 0,4 hektare itu memanfaatkan lahan milik warga yang disewa oleh Bumdes Partala. Melalui pengelolaan bersama, lahan tersebut disulap menjadi kawasan wisata edukasi pertanian yang memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat.

Selain menjadi destinasi wisata, agrowisata ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani. Penjualan secara langsung kepada pengunjung dinilai lebih menguntungkan dibandingkan menjual hasil panen kepada tengkulak.

Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) Desa Jatuh, Muhammad Hairani, mengatakan agrowisata petik melon merupakan yang pertama dikembangkan di desanya. Program tersebut menjadi langkah nyata untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

“Tujuan kami membuka agrowisata ini agar hasil panen memiliki nilai jual yang lebih baik dibandingkan dijual ke tengkulak. Kami juga ingin memotivasi Bumdes lain agar berinovasi mengembangkan berbagai komoditas pertanian,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (2/7/2026).

Menurut Hairani, keberhasilan budidaya melon turut mengangkat nama Desa Jatuh sebagai desa yang mampu menghadirkan inovasi di sektor pertanian.

Ke depan, pihaknya berencana memperluas lahan tanam serta menambah jenis tanaman yang memiliki daya tarik bagi pengunjung.

Pelaksanaan agrowisata ini merupakan hasil kolaborasi antara Bumdes Partala, Pemerintah Desa Jatuh, dan Penyuluh Pertanian Swadaya. Sinergi tersebut menjadi kunci dalam pengembangan kebun melon sekaligus mendukung pemasaran hasil panen secara langsung kepada masyarakat.

Saat ini, Bumdes Partala membudidayakan melon jenis Rock. Varietas tersebut dipilih setelah sebelumnya dilakukan uji coba terhadap tiga jenis melon, yakni Sky, Rock, dan Golden.

Dari hasil evaluasi, Rock dinilai paling sesuai karena perawatannya lebih mudah, produktivitasnya tinggi, serta diminati konsumen.

Keunggulan melon Rock juga terlihat dari ukuran buahnya yang relatif besar. Dalam sekali panen, berat buah dapat mencapai sekitar enam kilogram, sementara rata-rata bobot buah berkisar tiga kilogram sehingga memberikan keuntungan lebih bagi petani.

Hairani berharap kerja sama antara Bumdes, pemerintah desa, dan para petani terus terjalin dengan baik agar pengembangan agrowisata dapat berlanjut. Ia juga menginginkan semakin banyak petani yang mengikuti langkah budidaya melon sebagai alternatif usaha pertanian yang menjanjikan.

“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah atas dukungan yang diberikan, termasuk penerbitan surat keputusan operasional bagi Penyuluh Pertanian Swadaya. Dukungan tersebut menjadi motivasi bagi kami untuk terus mendampingi para petani dan mengembangkan sektor pertanian di desa,” katanya.

Melalui agrowisata petik melon, Bumdes Partala tidak hanya menghadirkan destinasi wisata berbasis pertanian, tetapi juga membuktikan bahwa inovasi di tingkat desa mampu meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat perekonomian lokal, serta menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *