BALANGAN (KATAKUNCI) – Universitas Sapta Mandiri (UNIVSM) terus memperluas eskalasi manfaat akademisnya hingga ke area-area yang selama ini sulit terjangkau. Sejalan dengan akselerasi program kemitraan “1.000 Sarjana” bersama Pemerintah Kabupaten Balangan, UNIVSM menegaskan komitmennya untuk menerapkan sistem pendidikan inklusif yang memprioritaskan keterbukaan akses bagi masyarakat di kawasan 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Langkah afirmasi ini diambil guna memastikan bahwa pemerataan pendidikan tinggi di Bumi Sanggam tidak hanya dinikmati oleh masyarakat yang tinggal di area perkotaan. Pihak universitas menyadari bahwa anak-anak muda yang berada di wilayah pelosok dan pedalaman memiliki potensi akademis yang sama besarnya, namun sering kali terkendala oleh keterbatasan geografis dan kendala finansial yang berlapis.
Dalam implementasinya, UNIVSM merancang skema penjaringan khusus yang adaptif guna merangkul calon mahasiswa dari wilayah terpencil tersebut. Tim sosialisasi kampus dikerahkan secara berkala untuk turun langsung ke desa-desa di kaki perbukitan dan perbatasan demi menjemput bola, mempermudah proses administrasi, serta memastikan kuota beasiswa daerah dapat tersalurkan dengan tepat sasaran.
Konsep inklusivitas yang diusung oleh UNIVSM juga tidak berhenti pada tahapan penerimaan mahasiswa baru saja. Selama masa perkuliahan berjalan, pihak kampus menyediakan program pendampingan intensif serta adaptasi budaya akademik bagi mahasiswa asal kawasan 3T, sehingga mereka dapat mengejar ketertinggalan dan beradaptasi dengan iklim teknologi digital di kampus secara mulus.
Pimpinan Universitas Sapta Mandiri menyampaikan bahwa tolok ukur keberhasilan sebuah perguruan tinggi adalah seberapa besar institusi tersebut mampu mengangkat derajat masyarakat yang paling membutuhkan. Komitmen pada pendidikan inklusif ini menempatkan UNIVSM sebagai jembatan sosial yang memotong sekat pembatas ekonomi, sehingga gelar sarjana kini menjadi hak yang nyata bagi semua kalangan.
Pemerintah daerah memberikan apresiasi yang tinggi atas keseriusan UNIVSM dalam mengawal dimensi inklusif dari program 1.000 Sarjana ini. Sinergi ini dinilai menjadi kunci krusial dalam mempercepat peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Balangan, sekaligus menyiapkan kader-kader pembangunan yang tangguh dan memiliki empati mendalam terhadap daerah asalnya.
Melalui konsistensi yang terjaga dalam 7 paragraf peta jalan komitmen ini, UNIVSM optimistis dapat melahirkan lulusan-lulusan yang siap kembali ke desa untuk membangun tanah kelahiran mereka. Keberhasilan program ini diharapkan mampu memutus rantai kemiskinan struktural di wilayah pelosok, sekaligus mengukuhkan posisi Universitas Sapta Mandiri sebagai kampus yang humanis, inklusif, dan berwawasan masa depan.(Arl)











