BeritaHULU SUNGAI TENGAH

Viral Siswa Lempar Makanan, Athaillah Minta Evaluasi Total Dapur MBG Paya

Avatar
×

Viral Siswa Lempar Makanan, Athaillah Minta Evaluasi Total Dapur MBG Paya

Sebarkan artikel ini
H. Athaillah Hasbi , Anggota komisi 3 DPRD Provinsi Kalsel . KATAKUNCI / Athaillah Atak Hasbi

Barabai (KATAKUNCI) – Anggota Komisi IV DPRD Kalsel, Athaillah Hasbi, mendesak dilakukannya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di dapur SPPG Desa Paya, Batang Alai Selatan.

Permintaan ini disampaikannya pada Sabtu (20/06/2026) melalui unggahan sosial media miliknya, menyusul viralnya aksi seorang siswa MTsN 6 HST yang melempar makanan yang diterimanya, sehingga menuai sorotan tajam dari masyarakat luas.

Menurut politisi tersebut, insiden yang terjadi harus menjadi cambuk dan bahan perbaikan agar program strategis ini kembali berjalan sesuai tujuan utamanya.

Tujuannya jelas, yakni memastikan setiap hidangan yang disajikan layak konsumsi, memiliki nilai gizi tinggi, serta dapat diterima dengan baik oleh peserta didik.

“Kami meminta Koordinator SPPG Hulu Sungai Tengah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG di dapur Desa Paya setelah adanya kejadian yang menjadi sorotan publik,” ujar Athaillah.

Evaluasi yang dimaksud tidak hanya berfokus pada rasa atau tampilan makanan, tetapi juga mencakup aspek manajemen operasional yang lebih luas.

Salah satu poin krusial yang disoroti adalah pengelolaan limbah dan kelayakan fasilitas penunjang yang dimiliki oleh unit dapur tersebut.

Ia menegaskan bahwa seluruh proses operasional harus berpegang teguh pada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan, termasuk keberadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

“Kami juga meminta dilakukan pemeriksaan terkait keberadaan IPAL sesuai SOP yang berlaku serta bagaimana sistem pembuangan limbah yang diterapkan,” tambahnya.

Di sisi lain, Athaillah juga menyoroti cara penanganan pihak sekolah terhadap siswa yang viral tersebut, khususnya terkait permintaan maaf yang diunggah ke media sosial.

Ia menilai langkah tersebut kurang tepat karena berpotensi melanggar aspek perlindungan anak dan justru dapat memicu tekanan psikologis serta perundungan maya terhadap pelajar.

Penyelesaian masalah, lanjutnya, sebaiknya dilakukan melalui pendekatan edukatif dan pembinaan karakter, bukan dengan tindakan yang berpotensi merugikan mental anak.

Dengan evaluasi yang komprehensif ini, diharapkan kualitas layanan program MBG dapat meningkat signifikan dan berbagai persoalan serupa tidak akan terulang di masa mendatang.

Penulis: Muhammad RamliEditor: Fitri M Hidayatullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *