Barabai (KATAKUNCI) – Kobaran api meluluhlantakkan 12 rumah warga di kawasan Kudung, Desa Sungai Jaranih, Kecamatan Labuan Amas Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).
Kebakaran terjadi Kamis (10/9/2026) sekitar pukul 18.50 WITA di Desa Sungai Jaranih RT 005 RW 003. Api diduga pertama kali muncul dari sebuah rumah kayu milik H Anwar yang digunakan sebagai gudang dan sedang tidak dihuni.
Warga setempat, Ahmad, mengatakan kobaran pertama kali terlihat dari bangunan tersebut. Dugaan sementara, api dipicu korsleting listrik, namun penyebab pasti kebakaran belum dapat dipastikan.
“Api mulai terlihat dari gudang milik H Anwar yang tidak berpenghuni, dugaan sementara karena korsleting listrik,” ujar Ahmad.
Dari bangunan kosong itu, api dengan cepat merambat ke rumah-rumah di sekitarnya. Keberadaan kios penjualan BBM eceran atau pom mini turut membuat kobaran membesar dan meningkatkan risiko bagi bangunan lain.
Permukiman yang padat menjadi persoalan tersendiri. Rumah-rumah berdempetan sehingga api mudah berpindah dari satu bangunan ke bangunan berikutnya, bahkan menjalar dari sisi permukiman di pinggir jalan umum menuju rumah-rumah yang berada di dalam gang.
Warga pun berpacu dengan waktu ketika api semakin membesar. Sebagian berusaha menyelamatkan barang-barang yang masih bisa dikeluarkan, sementara kobaran terus mendekati bangunan di sekitar titik awal kebakaran.
Jalan desa yang menjadi akses menuju permukiman tergolong sempit. Kondisi tersebut membuat pergerakan kendaraan pemadam tidak leluasa, terlebih akses bagi kendaraan roda empat dan lebih besar sedang ditutup karena pembangunan jembatan.
Armada pemadam yang hendak menuju lokasi terpaksa mencari jalur alternatif. Jarak tempuh yang lebih jauh membuat upaya menjangkau titik kebakaran menghadapi tantangan ketika api terus merambat di antara bangunan.
Kendala lain datang dari kondisi sumber air. Kemarau yang masih melanda kawasan tersebut membuat air yang dapat digunakan untuk penyedotan mesin portabel pemadam menjadi sulit diperoleh.
Di tengah keterbatasan itu, api telah menghanguskan sembilan bangunan milik Nursehan, Surbin, H Anwar, Sufiani, Jumberi, M Ilmi, Lamsiah, dan Nursihan, termasuk satu rumah H Anwar yang digunakan sebagai gudang. Seluruh bangunan tersebut dilaporkan mengalami kerusakan 100 persen.
Sementara itu, rumah Arbain mengalami kerusakan sekitar 30 persen, Muhammad Razikin sekitar 20 persen, dan Mahyudin sekitar 15 persen. Tingkat kerusakan tersebut menunjukkan sebagian bangunan tidak sepenuhnya tersambar api, meski tetap terdampak kebakaran.
Sebanyak 12 rumah yang terdampak berada dalam satu kawasan permukiman yang relatif berdekatan. Cepatnya api merambat memperlihatkan betapa rentannya bangunan kayu ketika kobaran muncul di lingkungan padat, terlebih pada musim kemarau.
Bagi warga Sungai Jaranih, kebakaran itu bukan sekadar deretan bangunan yang hangus. Rumah, tempat menyimpan barang, dan ruang kehidupan keluarga berubah menjadi puing dalam waktu singkat, sementara akses sempit dan keterbatasan air membuat perjuangan menghadapi kobaran api semakin berat.











