Barabai (KATAKUNCI) – Ratusan warga Kota Barabai memadati Momen Coffee untuk menyaksikan pemutaran film dokumenter bertajuk Pesta Babi yang menuai perhatian luas publik.
Kegiatan berlangsung pada Sabtu (16/5/2026) malam. Sejak acara dimulai hingga sesi diskusi usai, lokasi terlihat penuh sesak oleh penonton yang datang dari berbagai kalangan masyarakat.
Film karya Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Paju Dale ini sebenarnya telah dirilis sejak Maret 2026 lalu. Namun di beberapa daerah lain, pemutarannya sempat menimbulkan polemik hingga dibubarkan oleh aparat.
Justru peristiwa itulah yang memicu rasa ingin tahu warga Barabai. Banyak orang sengaja hadir agar dapat menyaksikan sendiri isi pesan yang terkandung dalam film tersebut secara utuh.
Berjudul lengkap Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, karya dokumenter ini berdurasi sekitar 72 menit dan mengangkat kisah nyata dari tanah Papua.
Sepanjang tayangan, masyarakat adat Papua menyuarakan keprihatinan mendalam terkait hilangnya ruang hidup mereka akibat pembukaan hutan untuk proyek besar serta aktivitas korporasi.
Film ini juga menyoroti dampak nyata dari kerusakan lingkungan yang perlahan menggerus keberlangsungan hidup, sumber pangan, dan nilai luhur kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu penonton, Emilda menjelaskan, alur cerita memusatkan perhatian pada perjuangan warga di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, Papua Selatan.
Di wilayah tersebut, konflik agraria terus terjadi lantaran alih fungsi lahan skala besar dinilai semakin menyempatkan wilayah adat tempat mereka menggantungkan hidup.
“Film ini menunjukkan alih fungsi lahan bukan sekadar menebang pohon, tetapi menggambarkan bagaimana kerusakan lingkungan berbanding lurus dengan terancamnya keberlangsungan hidup masyarakat Papua,” ujar Emilda usai menonton.
Menurutnya, pembubaran pemutaran film di sejumlah tempat justru dinilai mencederai semangat demokrasi dan kebebasan menyampaikan pendapat di ruang publik.
“Pesan yang disampaikan pembuat film sangat jelas, dan seharusnya pemerintah menyikapi sebagai pengetahuan serta membuka ruang dialog seluas-luasnya,” tambahnya lagi.
Acara tidak berhenti setelah film selesai diputar. Para penonton kemudian terlibat dalam diskusi terbuka, mengkritisi isu lingkungan, nasib masyarakat adat, hingga dampak pembangunan yang dirasakan langsung oleh saudara-saudara kita di Papua.











