Barabai (KATAKUNCI) – Sampah bukan sekadar persoalan kebersihan, melainkan cerminan kebiasaan manusia dalam memperlakukan lingkungan yang menjadi tempat hidup bersama.
Berangkat dari pemikiran tersebut, Muhammad Fauzan, Fasilitator Penanganan dan Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), menuangkan pengalaman dan kepeduliannya melalui sebuah buku berjudul Sampah Kita Tanggung Jawab Kita.
Karya ini lahir dari pengalamannya berkecimpung dalam pengelolaan sampah serta keinginannya menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Gagasan menulis buku itu muncul sekitar satu setengah tahun lalu, ketika Fauzan melihat bahwa edukasi mengenai sampah masih perlu diperkuat.
Menurutnya, berbagai upaya penanganan sampah tidak akan berjalan optimal apabila masyarakat belum memiliki kesadaran untuk mengurangi dan mengelola sampah yang dihasilkan setiap hari.
“Saya ingin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama,” ujar Fauzan.
Bagi Fauzan, persoalan sampah tidak dapat dilepaskan dari perilaku sehari-hari. Sampah yang dihasilkan dari rumah tangga, aktivitas perdagangan, sekolah, hingga ruang publik membutuhkan perhatian sejak dari sumbernya.
Karena itu, perubahan harus dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, dan mengelola sampah sesuai jenisnya.
Pemilihan judul Sampah Kita Tanggung Jawab Kita menjadi penegasan atas pesan yang ingin disampaikan. Kalimat sederhana tersebut mengandung ajakan agar setiap orang tidak hanya menuntut lingkungan bersih, tetapi juga bersedia mengambil tanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya.
Proses penyusunan buku berlangsung sekitar satu tahun. Fauzan mengumpulkan berbagai referensi dari regulasi, literatur pengelolaan sampah, serta pengalaman dan praktik di lapangan. Seluruh bahan tersebut disusun menjadi materi yang diharapkan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tantangan terbesar selama penulisan adalah menyederhanakan materi teknis agar dapat dipahami oleh pembaca dari berbagai latar belakang. Fauzan ingin buku tersebut tidak hanya menjadi sumber informasi bagi orang yang berkecimpung di bidang lingkungan, tetapi juga dapat dibaca pelajar, komunitas, aparatur pemerintahan, dan masyarakat umum.
“Saya berharap buku ini tidak hanya dibaca, tetapi juga dipraktikkan. Perubahan dalam pengelolaan sampah tidak cukup hanya dengan aturan, tetapi harus dimulai dari kesadaran dan tindakan nyata setiap orang,” katanya.
Harapan itu menunjukkan bahwa bagi Fauzan, keberhasilan sebuah buku tidak semata-mata diukur dari banyaknya pembaca, tetapi juga dari perubahan yang lahir setelah pesan di dalamnya dipahami. Pengetahuan mengenai sampah akan memiliki arti lebih besar ketika mendorong seseorang mengubah kebiasaan, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas (PSLB3PK) DLH HST, Muhammad Fadillah, mengapresiasi inisiatif Fauzan yang mengembangkan edukasi lingkungan melalui karya tulis.
Menurutnya, buku dapat menjadi sarana untuk memperluas pemahaman masyarakat sekaligus melengkapi upaya sosialisasi yang selama ini dilakukan dalam pengelolaan sampah.
“Kami mengapresiasi inisiatif Muhammad Fauzan yang telah menyusun buku tentang pengelolaan sampah. Ini merupakan bentuk kontribusi dalam memperkuat edukasi lingkungan dan mendorong masyarakat agar lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan,” ujar Fadillah.
Ia menyampaikan, DLH HST akan terus mendukung upaya pengembangan dan penyebarluasan karya tersebut agar dapat menjangkau lebih banyak pembaca, terutama masyarakat Hulu Sungai Tengah.
Dukungan terhadap literasi lingkungan dinilai penting agar pesan mengenai pengurangan dan penanganan sampah tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi juga hadir melalui bahan bacaan yang dapat dipelajari kapan saja.
“Kami berharap buku ini tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam memilah dan mengurangi sampah sejak dari rumah. Kami juga berharap karya ini terus berkembang, dicetak kembali, dan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, khususnya di Hulu Sungai Tengah,” tambahnya.
Di tengah harapan agar bukunya semakin dikenal, Fauzan juga ingin Sampah Kita Tanggung Jawab Kita suatu saat tersedia di jaringan toko buku nasional, termasuk Gramedia.
Keinginan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap literasi lingkungan, sehingga pesan yang dibawanya tidak hanya menjangkau pembaca di Hulu Sungai Tengah, tetapi juga daerah lainnya.
Pada akhirnya, perjalanan buku ini membawa pesan yang melampaui halaman-halaman tulisan. Persoalan sampah membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari rumah tangga hingga pemerintah.
Perubahan dapat dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten, sebab lingkungan yang bersih bukan hanya hasil dari kebijakan dan fasilitas, melainkan juga buah dari kesadaran setiap orang untuk bertanggung jawab atas sampahnya sendiri.











